Pengantar Isra Mi'raj dalam Literatur Keagamaan
Peristiwa Isra Mi'raj adalah mukjizat luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini terbagi menjadi dua bagian utama: Isra, yaitu perjalanan malam dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, dan Mi'raj, yaitu perjalanan Nabi dari Masjidil Aqsa naik melampaui lapisan langit hingga mencapai tingkat tertinggi di sisi Allah SWT. Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah peneguhan iman dan penguatan spiritual bagi Nabi Muhammad di tengah tantangan dakwahnya.
Meskipun detail kronologis dan geografis seringkali dibahas dalam hadis, sumber utama dan paling otoritatif mengenai peristiwa agung ini adalah Al-Qur'an. Terdapat ayat-ayat spesifik yang menjadi dasar teologis kuat mengenai kebenaran dan signifikansi Isra Mi'raj. Memahami QS (Qur'an Surah) yang berkaitan membantu umat Islam menempatkan peristiwa ini dalam konteks wahyu ilahi.
Keterkaitan QS dengan Perjalanan Isra
Bagian pertama dari mukjizat ini, yaitu perjalanan malam hari (Isra), secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur'an, khususnya dalam Surah Al-Isra (atau dikenal sebagai Surah Bani Isra'il) ayat pertama. Ayat ini menjadi pondasi utama yang menguatkan realitas perjalanan Nabi SAW dari satu masjid suci ke masjid suci lainnya.
Ayat ini menegaskan tiga poin penting:
- Keutamaan Allah (Subhanallah) sebagai Dzat yang Maha Kuasa melakukan perjalanan tersebut.
- Tujuan perjalanan pertama adalah Masjidil Aqsa, yang diberkahi.
- Tujuan utama adalah untuk menunjukkan "tanda-tanda kebesaran Kami" kepada Nabi SAW. Tanda-tanda ini mencakup pengalaman spiritual dan pemandangan alam semesta yang belum pernah dilihat manusia sebelumnya.
Makna Mi'raj dan Tanda Kebesaran Ilahi
Sementara Surah Al-Isra secara lugas menyebutkan Isra, perjalanan naik (Mi'raj) ke langit ketujuh dan pertemuan langsung Nabi dengan Allah SWT (atau di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh makhluk lain) dijelaskan dalam Surah An-Najm. Meskipun tidak menyebutkan kata "Mi'raj" secara langsung, ayat-ayat ini menjelaskan bahwa Nabi SAW telah melihat wahyu yang sangat agung di tempat tertinggi.
QS. An-Najm Ayat 13-18: "(13) Dan sungguh (Muhammad) telah melihat Jibril pada waktu yang lain, (14) yaitu di Sidratul Muntaha, (15) di dekat Surga Firdaus. (16) Ketika itu sedang meliputi Sidratul Muntaha sesuatu yang meliputinya. (17) Penglihatan (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya dan tidak (pula) melampauinya. (18) Sungguh ia telah melihat sebahagian tanda-tanda Tuhannya yang paling besar."
Ayat-ayat dalam Surah An-Najm ini mengindikasikan bahwa Nabi SAW mencapai batas tertinggi yang bisa dicapai oleh seorang manusia, yaitu Sidratul Muntaha. Kata "tanda-tanda Tuhannya yang paling besar" merujuk pada pemandangan keagungan Ilahi dan tata kelola alam semesta yang tidak dapat diakses oleh indra biasa. Hal ini menegaskan bahwa Isra Mi'raj adalah pengalaman transenden yang melampaui pemahaman ilmiah saat itu.
Signifikansi Ajaran yang Ditinggalkan
Selain menunjukkan kebesaran Allah, Isra Mi'raj memberikan warisan ajaran yang sangat vital bagi umat Islam. Selain penetapan salat wajib lima waktu sehari semalam—yang diperintahkan langsung oleh Allah tanpa perantara malaikat Jibril turun ke bumi—peristiwa ini juga memperkuat keyakinan akan alam gaib dan kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW.
Bagi kaum Muslimin yang berada dalam tekanan saat itu, kesaksian Nabi tentang perjalanan yang melintasi dimensi ruang dan waktu menjadi bukti nyata bahwa ajaran yang dibawanya bukanlah karangan semata, melainkan wahyu dari Sang Pencipta yang menguasai seluruh alam semesta. QS. Al-Isra ayat 1 secara eksplisit menyebutkan bahwa tujuan perjalanan adalah untuk menunjukkan ayat-ayat (tanda-tanda) Allah, menegaskan bahwa seluruh peristiwa ini adalah demonstrasi keilahian.
Pemahaman terhadap QS tentang Isra Mi'raj mengajarkan kita untuk tidak membatasi kekuasaan Allah pada hukum-hukum alam yang kita pahami sehari-hari. Mukjizat adalah pengecualian yang ditetapkan oleh Allah untuk menguatkan kebenaran para utusan-Nya, menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah sumber petunjuk yang mencakup fakta-fakta spiritual yang melampaui jangkauan akal semata.