Ilustrasi representasi wahyu ilahi
Pertanyaan mengenai apa itu Al Hijr adalah seringkali mengarahkan kita pada salah satu surat dalam kitab suci Al-Qur'an. Surat ke-15 dalam susunan mushaf ini memiliki nama yang spesifik, yaitu Surah Al-Hijr. Namun, untuk memahami maknanya secara utuh, kita perlu menyelami konteks penamaan surat ini serta inti ajaran yang dikandungnya. Secara harfiah, "Al-Hijr" berarti "Batu Karang" atau "Tempat yang Terlarang/Dihalang-halangi".
Penamaan Surah Al-Hijr (surat ke-15 dalam Al-Qur'an) diambil dari ayat ke-80 hingga ke-84. Ayat-ayat tersebut menceritakan kisah kaum Nabi Shalih, yaitu kaum Tsamud. Kaum Tsamud adalah bangsa yang sangat kuat dan ahli dalam memahat rumah-rumah mereka di dalam gunung dan batu karang. Wilayah kekuasaan mereka terkenal dengan sebutan Al-Hijr. Ayat-ayat tersebut menegaskan bagaimana kaum Tsamud mengabaikan peringatan yang dibawa oleh Nabi Shalih, bahkan mereka berupaya membunuh unta betina yang menjadi mukjizat kenabian.
Kisah ini menjadi peringatan keras mengenai bahaya kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran. Karena kekafiran dan penolakan mereka terhadap ajaran tauhid, Allah SWT kemudian menurunkan azab kepada mereka. Lokasi "Al-Hijr" ini secara historis diperkirakan berada di wilayah utara Arab Saudi, dekat dengan tempat tinggal kaum Nabi Luth (Sodom dan Gomora), yang juga dihancurkan karena kebejatan moral mereka. Oleh karena itu, nama Al Hijr adalah secara langsung merujuk pada sebuah lokasi geografis dan sejarah kehancuran kaum durhaka.
Surah Al-Hijr merupakan surah Makkiyah, yang berarti ayat-ayatnya diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah. Tema-tema dominan dalam surah ini seringkali berpusat pada penguatan akidah tauhid, penetapan kebenaran Al-Qur'an, dan pemaparan kisah-kisah umat terdahulu sebagai ibrah (pelajaran).
Beberapa tema penting yang dibahas meliputi:
Mengapa kisah kaum Tsamud sangat ditekankan hingga menjadi nama surah? Hal ini dikarenakan kemiripan situasi antara kaum Tsamud dengan kaum Quraisy pada masa kenabian. Kaum Tsamud adalah masyarakat yang makmur, maju secara teknologi (terbukti dari kemampuan mereka memahat batu), namun mereka keras kepala dan menindas Nabi mereka sendiri. Mereka menuntut mukjizat yang jelas (unta betina), namun ketika mukjizat itu datang dan mereka tetap membangkang, azab segera menyusul.
Dengan menyoroti nasib Al Hijr adalah wilayah kaum Tsamud, Al-Qur'an memberikan pesan universal: kemakmuran materi dan kecanggihan peradaban tidak menjamin keselamatan jika dibarengi dengan penolakan terhadap kebenaran ilahi. Jika mereka yang membangun rumah di gunung pun tidak luput dari murka Allah, maka tidak ada tempat berlindung yang aman bagi mereka yang berpaling dari ajaran-Nya.
Secara keseluruhan, Surah Al-Hijr berfungsi sebagai pengingat yang kuat bahwa hidup ini adalah ujian. Nama Al Hijr adalah berfungsi sebagai penanda historis kehancuran akibat kekafiran. Surat ini menekankan bahwa Allah Maha Adil dan akan memberikan balasan setimpal atas setiap amal perbuatan, baik itu keberanian untuk beriman di tengah tantangan (seperti Nabi Shalih) maupun kesombongan yang berujung pada kehancuran (seperti kaum Tsamud). Mempelajari surah ini memberikan ketenangan bagi orang beriman bahwa meskipun menghadapi kesulitan, janji pertolongan dan perlindungan Allah itu nyata, selama umat manusia tetap teguh di atas jalan kebenaran.