Ilustrasi simbolik Surat Al-Isra
Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, merupakan surat ke-17 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Surat ini memiliki kedalaman makna yang luar biasa, diawali dengan kisah agung perjalanan malam (Isra') Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis (Yerusalem). Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi sebuah mukjizat dan penguatan iman bagi Rasulullah di tengah cobaan kaum Quraisy.
Nama 'Bani Israil' sendiri merujuk pada keturunan Nabi Ya’qub AS. Surat ini memuat berbagai pedoman akidah, etika sosial, hukum, hingga peringatan tegas mengenai konsekuensi perbuatan manusia, baik individu maupun kolektif. Tema utamanya mencakup larangan syirik, penghormatan orang tua, keadilan, hingga larangan merusak bumi.
Salah satu pilar utama yang ditekankan dalam Surat 17 adalah aspek moralitas dan etika sosial. Islam menempatkan penghormatan terhadap orang tua pada posisi yang sangat tinggi, hampir menyamai kewajiban beribadah kepada Allah. Ayat-ayat tersebut dengan tegas melarang segala bentuk pembangkangan atau kata-kata yang menyakiti hati orang tua, serta menganjurkan untuk mendoakan mereka dengan penuh kasih sayang, sebagaimana mereka telah merawat sejak kecil.
Selain itu, Al-Isra menekankan pentingnya menjaga hak-hak umum. Terdapat larangan keras terhadap pembunuhan jiwa (kecuali dalam kasus yang dibenarkan syariat), larangan mendekati zina—karena zina adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk—serta pentingnya menunaikan janji dan amanah. Dalam konteks ekonomi, surat ini memperingatkan agar tidak melakukan praktik riba (bunga) yang merusak tatanan ekonomi masyarakat, dan menganjurkan kejujuran dalam takaran dan timbangan.
Konsep keadilan (qisth) adalah tema sentral lainnya. Islam menuntut keadilan mutlak, bahkan jika keadilan itu harus ditegakkan terhadap diri sendiri atau orang yang dibenci. Keadilan adalah fondasi tegaknya peradaban yang diridhai Allah.
Lebih lanjut, Surat Al-Isra memberikan peringatan signifikan mengenai pemborosan atau berlebihan (israf). Pemborosan tidak hanya berlaku pada harta benda, tetapi juga dalam penggunaan sumber daya alam. Ayat ini mengajarkan bahwa manusia harus menjadi khalifah yang baik, menjaga keseimbangan alam. Sifat boros digambarkan sebagai saudara setan, menekankan bahwa pengelolaan sumber daya adalah bagian dari ibadah dan amanah.
Surat ini juga berisi peringatan keras kepada mereka yang menyembunyikan ilmu atau berbuat sombong. Ada klausa penting yang menjelaskan bahwa meskipun Allah telah memberikan nikmat dan kekuasaan kepada suatu kaum, jika mereka berlaku zalim dan melampaui batas, maka kehancuran pasti akan datang. Sejarah bangsa-bangsa terdahulu (seperti Bani Israil yang disebutkan namanya dalam surat ini) dijadikan cermin agar umat Nabi Muhammad SAW tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Pesan penutup yang menguatkan adalah pengakuan bahwa Al-Qur'an adalah pedoman yang sempurna. Ia diturunkan secara bertahap (tadrij) agar mudah dipahami dan diamalkan. Umat Islam diperintahkan untuk terus berpegang teguh pada wahyu ini sebagai penuntun menuju kebenaran dan kesuksesan dunia akhirat. Mempelajari kandungan Surat 17 Al-Isra adalah investasi spiritual untuk memperbaiki kualitas interaksi kita dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam.