Surah Al-Hijr, yang merupakan surah ke-15 dalam susunan mushaf, memiliki nama yang diambil dari ayat ke-80, merujuk pada kaum Tsamud yang tinggal di daerah bernama Al-Hijr (yaitu Al-Madain Shalih saat ini). Surah ini kaya akan pelajaran teologis, kisah-kisah kenabian, dan penekanan kuat pada keesaan Allah SWT serta kekuasaan-Nya yang mutlak atas alam semesta. Meskipun banyak ayatnya turun di Mekkah, kekuatannya terletak pada peringatan keras terhadap mereka yang menolak kebenaran.
Salah satu fokus utama dari Surah Al-Hijr adalah narasi tentang kaum Tsamud. Mereka adalah masyarakat yang dianugerahi kemakmuran luar biasa dan kemampuan arsitektur yang maju; mereka mampu memahat rumah-rumah mereka dari gunung-gunung batu. Allah mengutus Nabi Shaleh AS kepada mereka sebagai pemberi peringatan. Kaum Tsamud, karena kesombongan dan kekufuran mereka, menantang Nabi Shaleh untuk menunjukkan mukjizat. Mukjizat unta betina yang keluar dari batu dipilih sebagai bukti kenabiannya.
Namun, alih-alih beriman, mereka justru membunuh unta tersebut. Sebagai konsekuensinya, Allah membinasakan kaum Tsamud. Kisah ini berfungsi sebagai pelajaran universal tentang bahaya kesombongan dan konsekuensi fatal dari penolakan terhadap seruan tauhid. Ayat-ayat ini mengingatkan bahwa meskipun manusia mampu mengukir gunung, kekuatan mereka tidak sebanding dengan Pencipta gunung itu sendiri.
Selain kisah kaum Tsamud, Surah Al-Hijr juga menyoroti kisah penciptaan Adam dan penolakan Iblis untuk bersujud kepadanya. Ketika Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud menghormati Adam, semua patuh kecuali Iblis. Keangkuhan Iblis disebabkan oleh anggapannya bahwa ia lebih mulia karena diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah.
Penolakan Iblis ini bukan sekadar ketidaktaatan, tetapi merupakan puncak dari kesombongan berbasis superioritas rasial (api atas tanah). Allah menghukum Iblis dengan laknat dan mengusirnya dari rahmat-Nya. Pelajaran yang bisa dipetik sangat jelas: kesombongan dan merasa lebih baik dari makhluk ciptaan Allah adalah jalan menuju kehancuran abadi. Dalam konteks yang lebih luas, hal ini menjadi cermin bagi siapapun yang menolak kebenaran karena ego atau pandangan materialistik mereka.
Surah ini tidak hanya berisi peringatan, tetapi juga penguatan iman melalui perenungan alam. Allah SWT berulang kali menegaskan kekuasaan-Nya dalam menciptakan langit dengan bintang-bintangnya (yang dihiasi) dan bumi yang terhampar luas. Ayat-ayat ini mengajak manusia untuk melihat keseimbangan kosmik. Bahkan, Allah menjamin rezeki bagi setiap makhluk, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya, "Dan tiadalah sesuatu pun melainkan di sisi Kami ada perbendaharannya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu."
Jaminan rezeki ini menenangkan hati mukmin. Ketika dihadapkan pada kesulitan ekonomi atau ketakutan akan masa depan, Surah Al-Hijr mengingatkan bahwa Allah adalah Ar-Razzaq (Pemberi Rezeki) yang mengatur segalanya dengan ketelitian ilahiah. Rasa takut manusia akan kekurangan seringkali menjadi penghalang mereka untuk berserah diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya.
Sebagai penutup pembahasan penting dalam surah ini, terdapat penekanan ulang mengenai kedudukan Al-Qur'an sebagai wahyu yang dijaga keotentisitasnya. Allah berfirman bahwa Dialah yang menurunkan Al-Qur'an dan Dialah yang akan menjaganya dari perubahan atau pengurangan. Ini memberikan kepastian bagi umat Islam bahwa sumber syariat utama mereka adalah murni dan terjamin kebenarannya hingga akhir zaman.
Secara keseluruhan, Surah Al-Hijr adalah gabungan antara kisah peringatan (kaum Tsamud dan Iblis) dan penguatan akidah (keesaan Allah, jaminan rezeki, dan kemurnian Al-Qur'an). Merenungkan maknanya memberikan perspektif yang jelas mengenai bahaya kesombongan dan pentingnya tawakal yang tulus kepada Sang Pencipta semesta alam.