Pengantar Surat Al-Hijr
Surat Al-Hijr, yang berarti "Batu Karang," adalah surat ke-15 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Dinamakan demikian karena mengandung kisah kaum Tsamud yang mendiami lembah berbatu di Al-Hijr (Mada'in Shaleh), sebuah wilayah di utara Hijaz. Sebagai surat Makkiyah, Al-Hijr sarat dengan pembahasan akidah, tauhid, penetapan kerasulan Nabi Muhammad SAW, serta ancaman tegas bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah.
Surat ini dibuka dengan penegasan bahwa Al-Qur'an adalah kebenaran yang pasti. Allah SWT berfirman bahwa orang-orang kafir, meskipun awalnya mendambakan agar nikmat kenabian itu ada pada diri mereka, pada akhirnya akan menyesali kekafiran mereka. Penekanan utama dalam surat ini adalah bahwa penciptaan alam semesta dan manusia adalah bukti kebesaran Allah, dan segala sesuatu telah diatur dalam ketetapan-Nya.
Kisah Kaum Nabi Saleh dan Kaum Luth
Salah satu fokus naratif yang menonjol dalam Al-Hijr adalah peringatan historis melalui kisah kaum-kaum terdahulu. Ayat-ayat yang membahas tentang kaum Tsamud, kaum Nabi Saleh, menjadi pelajaran penting mengenai pentingnya menjaga akidah dan menjauhi kesombongan. Kaum Tsamud diingatkan tentang mukjizat unta betina, namun mereka tetap memilih untuk membunuh unta tersebut. Akibatnya, mereka dihancurkan oleh azab Allah.
Demikian pula, diceritakan pula kisah kaum Nabi Luth AS yang dihukum karena perbuatan keji mereka. Allah SWT menegaskan bahwa kehancuran mereka adalah pelajaran nyata bagi siapa pun yang melanggar batas-batas syariat-Nya. Kisah-kisah ini berfungsi sebagai validasi kerasulan Nabi Muhammad SAW dan ancaman bagi kaum Quraisy Makkah yang saat itu menolak risalah beliau.
Pentingnya Menjaga Kualitas Iman
Al-Hijr juga menekankan tentang konsekuensi dari perilaku meremehkan ayat-ayat Allah. Allah SWT berfirman: "Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh ayat yang diulang-ulang dan Al-Qur'an yang agung." (QS. Al-Hijr: 87). Ayat ini menyiratkan bahwa Al-Qur'an adalah anugerah terbesar, dan meremehkannya adalah bentuk kekufuran yang fatal.
Selain peringatan, surat ini juga memberikan petunjuk bagi orang beriman, terutama mengenai kesabaran (sabr) dalam berdakwah dan keteguhan hati. Beberapa poin penting yang terkandung di dalamnya antara lain:
- Sujud kepada Adam: Penegasan keutamaan Nabi Adam AS sebagai manusia pertama dan penghormatan Allah kepada keturunannya.
- Kisah Iblis: Penolakan Iblis untuk bersujud kepada Adam karena kesombongan, yang berujung pada pengusiran dari rahmat Allah. Ini menjadi pelajaran tentang bahaya ujub (rasa kagum berlebihan pada diri sendiri).
- Penciptaan Manusia: Penjelasan bahwa manusia diciptakan dari tanah liat kering yang diubah menjadi debu yang berserakan, menunjukkan kerapuhan manusia di hadapan keagungan Pencipta.
Keagungan Penciptaan dan Kebutuhan akan Rasa Syukur
Surat Al-Hijr mengajak perenungan mendalam terhadap alam semesta. Allah menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya melalui penciptaan langit, bintang-bintang (sebagai penangkal sihir atau penjaga), hingga proses penurunan hujan yang terukur. Semua ini adalah bukti bahwa Allah adalah Maha Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq) yang mengatur segala sesuatu dengan sempurna.
Pada bagian akhir, surat ini ditutup dengan perintah untuk bertawakal dan bersabar dalam menghadapi ejekan kaum musyrikin. Nabi diperintahkan untuk tetap beribadah hingga datang kepastian (kematian atau kemenangan). Dengan total 99 ayat, Surat Al-Hijr adalah pengingat kuat bahwa meskipun manusia itu lemah dan rentan tergoda kesombongan (seperti Iblis), jalan menuju keselamatan adalah melalui ketaatan penuh dan syukur kepada Allah SWT, Sang Pencipta Batu Karang dan Langit yang terbentang luas.