Memahami Pesan Ilahi: Al Hijr Ayat 56

Mukadimah Surat Al Hijr

Surat Al-Hijr (yaitu kaum Tsamud yang diutus kepada mereka Nabi Shaleh) merupakan surat ke-15 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Surat ini turun di Mekkah dan kaya akan pelajaran penting mengenai keesaan Allah, kebesaran-Nya, dan konsekuensi dari mendustakan wahyu. Ayat 56 dari surat ini, khususnya, menyajikan sebuah dialog antara Nabi Ibrahim AS dengan kaumnya, atau konteks umum yang menekankan hakikat keputusasaan dari orang-orang yang menentang kebenaran.

Teks dan Terjemahan Al Hijr Ayat 56

Arab: قَالَ هَلْ تَهْلِعُونَ عَلَىٰ رَبِّكُمْ وَتَتَّخِذُونَ أَصْنَامًا {56}

Terjemahan: (Ibrahim) berkata, "Apakah kamu akan berduka cita atas (kehilangan) Tuhanmu, padahal Dia adalah Tuhan yang sebenarnya? Bahkan, apakah kamu tidak berpikir?"

Ayat ini adalah bagian dari narasi panjang tentang diskusi antara Nabi Ibrahim AS dengan kaumnya yang menyembah berhala. Setelah Ibrahim menghancurkan patung-patung sesembahan mereka (sebagaimana diceritakan di ayat-ayat sebelumnya), kaumnya mengancam akan membakar beliau. Dalam konteks inilah, Ibrahim menyampaikan teguran yang mendalam ini.

Ilustrasi Simbolis Dialog Kebenaran dan Kebatilan Kebenaran vs Keraguan

Ilustrasi Simbolis Dialog Kebenaran dan Kebatilan.

Analisis Mendalam Makna Ayat

Pertanyaan retoris Nabi Ibrahim AS mengandung dua komponen utama yang sangat penting dalam tauhid: kesedihan (kehilangan Tuhan) dan logika (pemikiran).

1. "Apakah kamu akan berduka cita atas (kehilangan) Tuhanmu..."

Frasa ini menyoroti absurditas dari kesedihan yang dirasakan kaumnya ketika berhala-berhala mereka diancam atau dihancurkan. Berhala, yang mereka yakini sebagai tuhan penolong, sesungguhnya tidak memiliki kekuatan sedikit pun. Kesedihan mereka atas benda mati menunjukkan betapa dalamnya kekeliruan akidah mereka. Ibrahim mengingatkan bahwa Tuhan yang sebenarnya (Allah SWT) adalah sumber segala keberkahan dan pertolongan, dan Dia tidak akan pernah hilang atau meninggalkan mereka kecuali karena kesombongan mereka sendiri. Kesedihan atas sesuatu yang tidak nyata (berhala) adalah kesedihan yang sia-sia dan tidak berdasar.

2. "...padahal Dia adalah Tuhan yang sebenarnya?"

Ini adalah penegasan tegas mengenai hakikat Uluhiyah (keberhakan). Hanya Allah SWT yang pantas disembah karena Dia adalah Al-Haqq (Yang Maha Benar/Hakiki). Segala sesuatu selain-Nya adalah batil. Ketika sesuatu yang batil diancam, kesedihan tidak logis, terutama ketika Tuhan yang hakiki selalu ada dan hadir dalam pengawasan-Nya.

3. "Bahkan, apakah kamu tidak berpikir (berakal)?"

Bagian penutup ini adalah puncak dari seruan logika. Ibrahim mengajak kaumnya untuk menggunakan akal sehat yang dianugerahkan Allah. Berpikir adalah kunci untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang abadi dan mana yang fana. Dalam konteks ini, berpikir seharusnya membawa mereka pada kesimpulan bahwa menyembah ciptaan yang lemah adalah perbuatan yang kontradiktif dengan tuntutan akal sehat.

Relevansi Kontemporer

Pelajaran dari Al Hijr ayat 56 ini melampaui konteks historis Nabi Ibrahim dan kaumnya. Ayat ini relevan sepanjang masa sebagai pengingat tentang prioritas spiritual. Dalam kehidupan modern, "berhala" bisa mengambil bentuk yang berbeda: kekayaan materi, status sosial, teknologi, atau ideologi yang menggeser posisi Tuhan dalam hati.

Ayat ini mendorong umat Islam untuk senantiasa memeriksa kembali pusat prioritas hidup mereka. Jika kesenangan duniawi (berhala modern) terancam, apakah kita merasakan kesedihan yang mendalam? Sebaliknya, jika kita menyadari bahwa Tuhan Yang Maha Benar selalu bersama kita, seharusnya kita tidak mudah gundah gulana atau putus asa atas hilangnya hal-hal duniawi yang sifatnya sementara. Seruan untuk berpikir adalah undangan untuk refleksi kritis terhadap nilai-nilai yang kita anut. Hanya dengan akal yang sehat dan hati yang terpusat pada Al-Haqq, seseorang dapat hidup dalam ketenangan sejati, lepas dari kegelisahan palsu.

🏠 Homepage