Ilustrasi: Tindakan memberi (sedekah) tidak mengurangi kekayaan sejati.
Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, mengandung banyak sekali pelajaran penting mengenai etika sosial, moralitas, dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Salah satu ayat yang paling sering diulas karena relevansinya dalam manajemen harta dan sikap dermawan adalah Al-Isra ayat 30. Ayat ini memberikan panduan keseimbangan yang sangat bijaksana mengenai bagaimana seorang Muslim seharusnya memperlakukan harta yang telah dikaruniakan Allah SWT.
Ayat ini secara eksplisit mengajarkan konsep jalan tengah. Islam selalu menganjurkan umatnya untuk menghindari ekstremitas dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam hal pengeluaran dan kedermawanan. Allah SWT memerintahkan, "Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir)..." Frasa "terbelenggu pada leher" adalah metafora yang sangat kuat untuk menggambarkan sifat kikir atau bakhil. Ketika seseorang kikir, seolah-olah tangannya terikat erat ke lehernya, tidak mampu bergerak, tidak mampu memberi, seolah-olah hartanya adalah beban yang mencekiknya.
Sifat kikir ini dilarang keras karena merugikan diri sendiri di dunia dan di akhirat. Ia menghalangi seorang Muslim untuk meraih pahala bersedekah dan menumbuhkan sifat egois yang menjauhkan dari keberkahan sosial.
Di sisi lain spektrum, ayat tersebut melanjutkan dengan larangan keras terhadap perilaku yang berlebihan: "...dan jangan pula engkau menghulurkannya (membuka tangan lebar-lebar) sepenuhnya..." Ini adalah larangan terhadap Israf, yaitu pemborosan atau menghabiskan harta tanpa perhitungan, melebihi batas kebutuhan dan kemampuan. Jika seseorang terlalu royal hingga menghabiskan seluruh asetnya dalam satu waktu, tanpa menyisakan untuk kebutuhan pokok, keluarga, atau persiapan masa depan, maka ia telah melanggar batasan yang ditetapkan.
Konsekuensi dari sikap boros ini dijelaskan dengan gamblang: "...nanti (akibatnya) kamu menjadi tercela dan menyesal." Penyesalan (mahsuran) ini bisa terjadi ketika harta telah habis, kebutuhan mendesak muncul, atau ketika seseorang menyadari bahwa ia telah menyia-nyiakan titipan Allah tanpa menghasilkan manfaat yang berarti, baik untuk dunia maupun akhirat. Tercela (maluman) di sini bisa berarti dicela oleh masyarakat karena tidak bertanggung jawab, atau dicela oleh dirinya sendiri karena gagal mengelola amanah dengan baik.
Meskipun ayat 30 fokus pada keseimbangan, ayat sebelumnya (Al-Isra ayat 29) memberikan konteks utama mengapa keseimbangan ini penting: yaitu untuk menunaikan hak Allah dan hak sesama melalui sedekah. Ayat 29 berbunyi, "Dan berikanlah kepada kerabat dekat akan haknya, begitu pula kepada orang miskin dan orang yang sedang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros."
Ketika kita memahami konteks ini, maka perintah keseimbangan pada ayat 30 menjadi lebih jelas. Sedekah (infak) harus dilakukan secara teratur dan proporsional. Ia bukan sekadar membuang kelebihan, tetapi merupakan kewajiban yang harus diintegrasikan dalam perencanaan keuangan harian dan bulanan. Islam mengajarkan bahwa harta adalah sarana untuk mencapai ketaatan, bukan tujuan akhir. Oleh karena itu, mengelola harta dengan penuh pertimbangan antara kebutuhan pribadi, kewajiban keluarga, dan tanggung jawab sosial (sedekah) adalah bentuk ibadah yang kompleks.
Para ulama tafsir sering menekankan bahwa keseimbangan ini mengarah pada keberkahan. Kikir menghalangi keberkahan masuk, dan boros menghabiskan keberkahan yang ada. Sebaliknya, sikap dermawan yang terukur dan berdasarkan prinsip tauhid akan melipatgandakan manfaat harta tersebut, baik dari sisi material maupun spiritual. Ayat Al-Isra ayat 30 adalah pengingat abadi bahwa dalam ranah kemurahan hati, moderasi adalah kunci menuju keridhaan Ilahi dan terhindar dari penyesalan duniawi.
Dengan demikian, merenungi ayat ini mendorong kita untuk senantiasa mengevaluasi pola belanja kita: Apakah kita terlalu pelit sehingga menahan hak orang lain dan diri sendiri dari kebaikan? Atau, apakah kita terlalu royal hingga membahayakan stabilitas masa depan kita sendiri? Jawaban yang benar selalu berada di tengah, yakni kedermawanan yang bijaksana.