"Dan katakanlah: 'Kebenaran telah datang, dan kebatilan telah lenyap.' Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap." (QS. Al-Isra [17]: 81)
Ayat 81 dari Surah Al-Isra (Bani Israil) adalah salah satu firman Allah yang sangat kuat dan memiliki makna universal, terutama dalam konteks dakwah dan perjuangan spiritual. Ayat ini menegaskan janji ilahi bahwa kebenaran sejati, yang dibawa oleh risalah kenabian, pada akhirnya akan menang dan menghapus segala bentuk kepalsuan dan kesesatan.
Ketika Nabi Muhammad SAW tiba dengan risalah Islam, beliau membawa konsep tauhid murni—sebuah kebenaran yang utuh. Kebenaran ini secara langsung berbenturan dengan kebatilan yang mengakar pada masa itu, seperti penyembahan berhala, takhayul, dan ketidakadilan sosial. Allah memerintahkan Nabi untuk menyatakan dengan penuh keyakinan: "Katakanlah: Kebenaran telah datang..." Ini adalah deklarasi kemenangan yang bersifat profetik.
Kata 'Al-Haqq' (الحق) berarti kebenaran mutlak, sesuatu yang nyata, permanen, dan sesuai dengan realitas yang ditetapkan oleh Allah SWT. Sementara itu, 'Al-Bathil' (الباطل) berarti kepalsuan, kebatilan, sesuatu yang kosong, fana, dan tidak memiliki dasar yang kokoh.
Puncak dari penegasan ayat ini terletak pada kalimat penutup: "Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap (kana zahuuqan)." Kata 'zahuuqan' memberikan penekanan bahwa lenyapnya kebatilan bukanlah sekadar kemungkinan, melainkan sebuah kepastian tak terhindarkan. Kebatilan, betapapun kuatnya ia tampak di permukaan—baik dalam bentuk ideologi sesat, kekuasaan zalim, atau hawa nafsu—adalah entitas yang secara inheren rapuh dan tidak memiliki daya tahan.
Ayat ini menjadi penyemangat abadi bagi umat Islam dalam menghadapi tantangan zaman. Dalam konteks modern, 'kebenaran' yang dimaksud tidak hanya terbatas pada akidah, tetapi juga mencakup tegaknya keadilan, kejujuran dalam bermuamalah, dan penegasan prinsip moralitas yang diajarkan Islam.
Ketika kita melihat penyebaran informasi yang salah (hoaks) atau dominasi sistem yang tidak adil, Al-Isra ayat 81 mengingatkan kita untuk tidak putus asa. Perjuangan untuk membawa cahaya kebenaran mungkin menghadapi perlawanan keras, namun fondasi kebatilan selalu rapuh. Tugas kita adalah terus menyuarakan dan mempraktikkan kebenaran, karena sejarah telah membuktikan, dan Al-Qur'an menjamin, bahwa pada akhirnya, kebatilan akan selalu surut di hadapan cahaya hakiki Allah SWT.