Ilustrasi Simbol Bahaya Raksa (Mercury)
Raksa, yang juga dikenal sebagai mercury, adalah elemen logam yang memiliki sifat unik, salah satunya adalah wujudnya yang cair pada suhu ruang. Sifat inilah yang membuatnya menarik dan banyak digunakan dalam berbagai aplikasi, mulai dari termometer medis hingga lampu neon. Namun, di balik kemudahan penggunaannya, raksa menyimpan potensi bahaya yang signifikan bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Pemahaman mendalam mengenai sifat, bahaya, dan cara pengelolaan yang aman sangat krusial untuk meminimalkan risiko.
Raksa (simbol kimia: Hg) adalah unsur kimia dengan nomor atom 80. Ia merupakan logam transisi yang berada dalam golongan 12 dan periode 6 tabel periodik. Keistimewaan utamanya adalah titik lelehnya yang rendah, yaitu -38.83 °C, sehingga ia menjadi satu-satunya logam yang berbentuk cair pada suhu dan tekanan standar. Raksa memiliki warna keperakan yang mengkilap dan cenderung menguap pada suhu kamar, menghasilkan uap yang tidak berwarna dan tidak berbau, namun sangat beracun.
Secara alami, raksa dapat ditemukan di kerak bumi, seringkali dalam bentuk mineral cinabar (HgS). Aktivitas manusia telah meningkatkan konsentrasi raksa di lingkungan, terutama melalui kegiatan industri seperti penambangan emas skala kecil, pembakaran bahan bakar fosil (terutama batu bara), dan produksi semen. Penggunaannya dalam berbagai produk juga menjadi sumber potensial paparan:
Raksa adalah neurotoksin kuat, yang berarti ia sangat berbahaya bagi sistem saraf. Paparan raksa dapat terjadi melalui tiga jalur utama: inhalasi (menghirup uap), ingesti (menelan), dan penyerapan melalui kulit. Bentuk raksa yang paling berbahaya bagi kesehatan manusia adalah metilmerkurio, yang terbentuk ketika raksa anorganik berinteraksi dengan mikroorganisme di lingkungan perairan. Metilmerkurio dapat terakumulasi dalam rantai makanan, terutama pada ikan, sehingga menjadi ancaman serius bagi manusia yang mengonsumsi ikan tersebut.
Dampak kesehatan dari paparan raksa bervariasi tergantung pada dosis, durasi paparan, dan bentuk raksa. Gejala paparan akut dapat meliputi sakit kepala, mual, muntah, diare, dan kerusakan ginjal. Paparan kronis, terutama pada ibu hamil dan anak-anak, dapat menyebabkan:
Penting untuk dicatat bahwa bayi dan anak-anak, serta wanita hamil, adalah kelompok yang paling rentan terhadap efek neurotoksik raksa.
Raksa yang dilepaskan ke lingkungan tidak mudah terurai dan dapat berpindah jarak jauh melalui udara dan air. Ketika masuk ke dalam ekosistem perairan, raksa anorganik dapat diubah oleh bakteri menjadi metilmerkurio yang sangat toksik. Metilmerkurio kemudian diserap oleh organisme akuatik, seperti ikan dan kerang. Semakin tinggi posisi organisme dalam rantai makanan, semakin tinggi pula konsentrasi metilmerkurio yang terakumulasi di dalam tubuhnya (biomagnifikasi). Hal ini menjadikan ikan predator besar sebagai sumber paparan metilmerkurio yang signifikan bagi manusia.
Mengingat bahaya yang ditimbulkannya, pengelolaan raksa yang aman dan pencegahan paparan menjadi prioritas. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat diambil:
Raksa adalah elemen yang perlu kita waspadai. Dengan pemahaman yang baik tentang risikonya dan penerapan praktik pengelolaan yang aman, kita dapat melindungi kesehatan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan dari ancaman tersembunyi logam cair yang berbahaya ini.