Akhlak adalah cerminan sejati dari diri seseorang. Dalam perspektif etika dan moralitas, akhlak terbagi menjadi dua kategori utama: akhlak terpuji (mahmudah) dan akhlak tercela (mazmumah). Mengenali dan memahami apa saja yang termasuk dalam kategori akhlak tercela adalah langkah awal krusial untuk membersihkan jiwa dan membangun interaksi sosial yang sehat. Sifat-sifat buruk ini ibarat penyakit hati yang jika dibiarkan akan merusak hubungan individu dengan sesama dan Tuhannya.
Akhlak tercela adalah perilaku, ucapan, atau keyakinan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan universal dan norma-norma moralitas luhur. Berikut adalah beberapa contoh akhlak tercela yang paling sering ditemukan dan harus dihindari dalam kehidupan sehari-hari:
Mengembangkan akhlak tercela tidak hanya berdampak pada hubungan vertikal (dengan Tuhan) tetapi juga horizontal (dengan sesama manusia). Sifat-sifat buruk ini menciptakan atmosfer sosial yang penuh kecurigaan, iri hati, dan permusuhan. Riya’ membuat ibadah menjadi sia-sia, kesombongan menghalangi penerimaan kebenaran, sementara ghibah dan fitnah menjadi racun yang perlahan menghancurkan jalinan silaturahmi dan persaudaraan.
Secara psikologis, memendam sifat tercela seperti dengki atau tamak akan menimbulkan kegelisahan dan ketidaktenangan batin. Seseorang yang didominasi oleh keserakahan akan selalu merasa kekurangan, walau hartanya melimpah. Sebaliknya, upaya untuk membersihkan diri dari akhlak tercela adalah proses jihadun nafs (perjuangan melawan hawa nafsu) yang sangat mulia.
Mengatasi akhlak tercela memerlukan komitmen jangka panjang dan introspeksi diri yang jujur. Langkah pertama adalah mengakui keberadaan sifat buruk tersebut dalam diri, tanpa mencari pembenaran. Setelah itu, diperlukan penggantian aktif. Jika seseorang cenderung Ghibah, ia harus menggantinya dengan mengingat kebaikan orang yang hendak dibicarakan atau segera beristighfar.
Untuk melawan kesombongan, praktikkanlah kerendahan hati dengan cara selalu melihat ke bawah dalam hal duniawi (mengingat orang yang kurang beruntung) agar selalu bersyukur, dan melihat ke atas dalam hal spiritual (mengingat orang yang lebih baik ibadahnya) agar termotivasi. Selalu mengelilingi diri dengan lingkungan yang mengingatkan pada kebaikan dan menjauhi sumber yang dapat memicu munculnya kembali akhlak mazmumah adalah kunci utama. Dengan menyadari dan secara aktif menghindari akhlak tercela, seseorang dapat menata jiwanya agar lebih lapang, damai, dan mendekati pribadi yang diridhai.
Semoga pemahaman ini membawa langkah kita menuju perbaikan diri yang berkelanjutan.