Tentang Penjagaan Wahyu Ilahi
Ayat kesembilan dari Surah Al-Hijr (QS. 15:9) adalah salah satu ayat yang paling kuat dan fundamental dalam keyakinan umat Islam mengenai status Al-Qur'an. Ayat ini secara tegas menyatakan janji Allah SWT, Sang Pemilik keagungan dan kekuasaan mutlak, bahwa Dialah yang telah menurunkan Al-Qur'an dan Dialah pula yang akan menjaganya dari segala bentuk perubahan, penambahan, atau pengurangan hingga akhir zaman.
Lafaz "إِنَّا نَحْنُ" (Inna Nahnu) menegaskan kekhususan dan keunikan penjagaan ini. Penggunaan kata ganti "Kami" (yang merujuk kepada Allah SWT) dengan penekanan 'Nahnu' (Kami sendiri) menunjukkan bahwa penjagaan ini bukan didelegasikan kepada malaikat, nabi, atau manusia, melainkan langsung di bawah pengawasan Ilahi. Ini memberikan jaminan kualitas dan orisinalitas yang tidak tertandingi.
Kata "نَزَّلْنَا" (Nazalna) menunjukkan proses penurunan wahyu secara bertahap (tadrij) selama kurang lebih 23 tahun kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Jibril 'alaihissalam. Proses bertahap ini memiliki hikmahnya sendiri, yaitu agar umat manusia dapat mencerna, memahami, dan mengamalkan ajaran tersebut sesuai dengan konteks tantangan zaman mereka. Ayat ini menggarisbawahi bahwa Al-Qur'an bukan sekadar hasil pemikiran manusia atau karangan Nabi, melainkan Firman murni yang berasal dari sumber Yang Maha Benar.
Bagian terpenting dari ayat ini adalah janji pemeliharaan (hifzh). Dalam sejarah kenabian, banyak kitab suci terdahulu yang mengalami distorsi, hilang sebagian isinya, atau tercampur dengan interpretasi manusia. Namun, Allah SWT memberikan jaminan khusus bagi Al-Qur'an. Pemeliharaan ini mencakup beberapa aspek krusial:
Janji penjagaan ini merupakan rahmat besar dan menjadi bukti kenabian Muhammad SAW. Tanpa jaminan ini, umat Islam tidak akan memiliki dasar yang pasti untuk beribadah dan berinteraksi dengan prinsip ketuhanan. Ketika kita membaca Al-Qur'an hari ini, kita membaca kalimat yang sama persis dengan yang dibaca oleh generasi sahabat empat belas abad yang lalu. Ini adalah mukjizat abadi yang membedakan Al-Qur'an dari kitab-kitab suci lainnya.
Memahami QS. Al-Hijr ayat 9 memberikan ketenangan dan rasa aman spiritual. Pertama, kita didorong untuk membaca dan mempelajari Al-Qur'an dengan keyakinan penuh bahwa apa yang kita baca adalah kebenaran yang otentik. Kedua, ayat ini menuntut tanggung jawab kita sebagai umat Islam untuk berpartisipasi aktif dalam penjagaan ini, melalui upaya menghafal (tahfidz), mengajarkannya, dan yang paling penting, mengamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk penghormatan terhadap janji Allah SWT. Surah Al-Hijr ayat 9 adalah benteng pertahanan teologis yang kokoh bagi umat Islam.