Surat Al-Hijr (Surah ke-15 dalam Al-Qur'an) adalah surat yang kaya akan pelajaran mengenai kekuasaan Allah, kisah kaum Nabi Shaleh (Tsamud), dan peringatan tegas terhadap pendustaan. Setelah mengkaji ayat-ayat dalam surat ini, perjalanan kita dalam memahami mushaf Al-Qur'an berlanjut ke surat-surat berikutnya. Urutan ini bukanlah acak, melainkan tersusun secara sistematis, menawarkan kesinambungan tematik dan penekanan spiritual yang berbeda.
Transisi Tematik Menuju Surat An-Nahl
Setelah Al-Hijr, kita memasuki Surat An-Nahl (Surah ke-16). Transisi ini sangat signifikan. Jika Al-Hijr banyak menyoroti peringatan keras dan kisah-kisah umat terdahulu yang durhaka, An-Nahl membawa fokus yang lebih luas pada keajaiban penciptaan dan rahmat Allah SWT. Nama "An-Nahl" (Lebah) sendiri diambil dari ayat yang memuji inspirasi ilahi yang diberikan kepada lebah—sebuah metafora kuat tentang keteraturan, kerja keras, dan hasil yang bermanfaat (madu).
Ilustrasi Keteraturan Rahmat Pasca Al-Hijr (An-Nahl)
Setelah pelajaran tentang kaum yang keras kepala dalam Al-Hijr, An-Nahl mengingatkan bahwa Allah adalah Al-Khaliq (Sang Pencipta) yang Maha Bijaksana. Surat ini memuat lebih dari 20 ayat yang secara eksplisit membahas tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta, mulai dari proses hujan, terciptanya hewan ternak untuk transportasi dan konsumsi, hingga kompleksitas lebah. Penekanan pada syukur (syukur) diperkuat di sini, sebagai respons alami terhadap rahmat yang dilihat di sekeliling kita.
Pembahasan Hukum dan Perintah Ibadah
Melanjutkan perjalanan ke surat-surat berikutnya, khususnya An-Nahl, kita juga mulai melihat penguatan perintah-perintah syariat dan hukum. Surat ini bukan hanya tentang tafakkur (perenungan), tetapi juga tentang implementasi iman dalam kehidupan praktis. Ayat-ayat di dalamnya membahas tentang keadilan, menepati janji, dan larangan berbuat kerusakan di muka bumi. Ini adalah jembatan logis dari pemahaman tauhid yang diperkuat di surat-surat Makkiyah sebelumnya (seperti Al-Hijr) menuju pemantapan tata kelola sosial dalam konteks Madani.
Kontinuitas Al-Qur'an menunjukkan bahwa iman harus diiringi dengan amal saleh dan kesadaran ekologis. Jika Al-Hijr mengajarkan konsekuensi penolakan kebenaran secara individual atau kelompok kecil, An-Nahl memperluas cakupan peringatan tersebut kepada masyarakat luas, menekankan bahwa kemakmuran duniawi sangat bergantung pada kepatuhan terhadap hukum ilahi.
Peran Wahyu dan Kebenaran Ilahi
Salah satu tema sentral yang sangat menonjol setelah Al-Hijr adalah penegasan kembali otentisitas Al-Qur'an dan fungsi kenabian. Surat-surat setelah Al-Hijr sering kali berfungsi sebagai pembelaan dan penegasan atas kebenaran wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, terutama ketika menghadapi keraguan atau tuduhan dari kaum musyrikin. Pengulangan narasi tentang para nabi dan bagaimana umat mereka menolaknya (walaupun dengan penekanan yang berbeda dari kisah kaum Nabi Shaleh), bertujuan mematrikan keyakinan bahwa jalan dakwah selalu menuntut kesabaran dan keteguhan.
Secara ringkas, periode Qur'ani setelah Surat Al-Hijr adalah fase pendewasaan narasi. Kita bergerak dari penekanan kuat pada peringatan dan keagungan pencipta yang termanifestasi dalam ancaman, menuju apresiasi yang lebih mendalam terhadap rahmat, keteraturan alam, dan implementasi praktis dari ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mempelajari urutan ini membantu kita menghargai bagaimana setiap surat berkontribusi pada gambaran besar Islam secara holistik.