Dan tidak ada suatu pun melainkan di sisi Kami-lah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.
Ayat ke-23 dari Surah Al-Hijr ini merupakan salah satu ayat kunci dalam memahami sifat kekuasaan dan pemeliharaan Allah SWT terhadap seluruh ciptaan-Nya. Ayat ini menawarkan sebuah jaminan ketenangan sekaligus pengingat akan kebesaran Sang Pencipta. Ketika konteks sebelumnya membahas tentang bagaimana orang-orang musyrik meragukan kebangkitan atau kekuasaan Allah dalam mengatur rezeki, ayat ini hadir sebagai bantahan yang tegas dan meyakinkan.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ" (kecuali di sisi Kami-lah khazanahnya). Ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta—mulai dari rezeki, hujan, ajal, bahkan potensi kehidupan—berada dalam penguasaan mutlak Allah SWT. Tidak ada sumber daya yang tersembunyi dari-Nya, dan tidak ada yang dapat memberikannya selain Dia. Konsep "khazanah" di sini tidak hanya terbatas pada kekayaan materi, tetapi mencakup semua bentuk sumber daya dan kekuatan yang dibutuhkan makhluk hidup.
Ayat ini secara efektif mematahkan anggapan bahwa kekuatan atau sumber rezeki bergantung pada dewa-dewa lain, berhala, atau kekuatan alam yang berdiri sendiri. Ketika manusia menyembah selain Allah, mereka sebenarnya menyembah sesuatu yang keberadaannya pun berada di bawah kendali penuh Allah.
Bagian kedua ayat, "وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ" (dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu), adalah pilar penting dalam teologi Islam mengenai takdir dan hikmah. Kata "biqadar" merujuk pada ketetapan, takaran, atau batas yang telah ditentukan sebelumnya.
Ini mengajarkan beberapa pelajaran mendasar:
Memahami Al-Hijr ayat 23 membawa ketenangan luar biasa bagi seorang mukmin. Jika kita mengetahui bahwa setiap tetes air dan setiap butir rezeki berada dalam "perbendaharaan" Yang Maha Kuasa dan diturunkan berdasarkan ukuran yang pasti, maka kegelisahan mengenai masa depan akan berkurang.
Ini mendorong tawakal yang sejati. Tawakal bukan berarti diam pasrah tanpa usaha, melainkan bekerja keras sambil meyakini bahwa hasil akhir (rezeki, keberhasilan, atau kegagalan) telah diatur dalam batas takaran yang telah ditetapkan Allah. Ketika hasil tidak sesuai harapan, seorang mukmin akan kembali merenungi, "Apakah ini takaran yang telah ditetapkan untukku saat ini?"
Ayat ini juga menjadi pengingat penting bagi para pemberi sedekah dan pemimpin. Ketika membagikan sumber daya, hendaknya mereka meneladani sifat Allah, yaitu membagikannya dengan adil dan sesuai dengan kebutuhan yang tepat (ukuran yang tertentu), bukan berdasarkan keinginan sepihak atau emosi semata.
Kesimpulannya, Surah Al-Hijr ayat 23 adalah afirmasi monoteistik yang kuat: Allah adalah sumber segala sesuatu, dan Dia mengatur alirannya dengan presisi yang tak tertandingi. Dalam kesempurnaan pengaturan-Nya terletak keadilan dan rahmat yang melimpah bagi seluruh alam.