Kondisi di mana sperma keluar bercampur darah, atau yang dalam istilah medis dikenal sebagai hematospermia, adalah sebuah gejala yang seringkali menimbulkan kekhawatiran bagi pria. Meskipun kedengarannya mengkhawatirkan, penting untuk diketahui bahwa dalam banyak kasus, hematospermia bersifat jinak dan sementara. Namun, karena melibatkan sistem reproduksi dan saluran kemih, penanganan medis profesional sangat dianjurkan untuk memastikan tidak ada kondisi serius yang mendasarinya.
Hematospermia dapat terjadi karena berbagai alasan, mulai dari kondisi ringan yang tidak memerlukan intervensi, hingga masalah kesehatan yang memerlukan perhatian serius. Memahami sumber pendarahan adalah kunci. Darah bisa berasal dari area mana pun di sepanjang saluran reproduksi pria, termasuk testis, epididimis (tempat penyimpanan sperma), vas deferens, kelenjar prostat, atau uretra (saluran kencing).
Sebagian besar kasus hematospermia tidak disebabkan oleh kanker atau penyakit menular seksual yang serius. Penyebab umumnya meliputi:
Meskipun jarang, pendarahan yang persisten harus dievaluasi untuk menyingkirkan kondisi berikut:
Jika Anda mengalami sperma keluar bercampur darah, langkah pertama adalah tetap tenang. Jika ini adalah episode pertama dan hanya berlangsung satu kali, biasanya dokter akan menyarankan observasi selama beberapa minggu.
Namun, konsultasi medis sangat diwajibkan jika:
Dokter akan memulai dengan menanyakan riwayat kesehatan Anda secara detail, termasuk kapan gejala muncul, seberapa sering terjadi, dan apakah ada gejala penyerta lainnya. Pemeriksaan fisik, terutama pemeriksaan prostat melalui rektal (DRE), mungkin dilakukan. Tes diagnostik yang umum meliputi:
Analisis Urin: Untuk mendeteksi adanya infeksi atau darah dalam urin.
Kultur dan Tes IMS: Untuk mengidentifikasi bakteri atau infeksi menular seksual.
Pencitraan (USG): Ultrasonografi skrotum atau transrektal (TRUS) dapat membantu dokter melihat struktur prostat, epididimis, dan vesikula seminalis untuk mencari sumber pendarahan, seperti kista atau tumor.
Pengobatan akan sepenuhnya bergantung pada diagnosis. Jika disebabkan oleh infeksi, antibiotik akan diberikan. Jika disebabkan oleh peradangan, obat anti-inflamasi mungkin diperlukan. Untuk kasus yang lebih kompleks, prosedur lebih lanjut mungkin dipertimbangkan.