Warna cairan mani atau semen yang sehat umumnya berwarna putih keabu-abuan atau sedikit kekuningan. Namun, banyak pria yang menyadari perubahan warna menjadi lebih keruh atau kental, yang seringkali menimbulkan kekhawatiran mengenai kesuburan atau kesehatan secara umum. Memahami apa yang menyebabkan sperma keruh adalah langkah awal untuk menentukan apakah kondisi ini normal atau memerlukan perhatian medis.
Cairan semen terdiri dari sel sperma (diproduksi di testis) dan cairan yang diproduksi oleh kelenjar prostat serta vesikula seminalis. Warna keruh yang tidak biasa seringkali terkait dengan konsentrasi sel darah putih (leukosit), infeksi, atau perubahan komposisi cairan pelengkap.
Meskipun beberapa tingkat kekeruhan ringan bisa disebabkan oleh frekuensi ejakulasi yang jarang (sehingga cairan menjadi lebih pekat), kekeruhan yang signifikan atau disertai gejala lain harus dieksplorasi lebih lanjut.
Terdapat beberapa faktor yang dapat memicu perubahan warna dan konsistensi sperma menjadi keruh. Berikut adalah beberapa penyebab yang paling umum:
Ini adalah penyebab paling sering dari sperma keruh yang patologis. Kehadiran leukosit dalam jumlah tinggi dalam air mani disebut leukocytospermia. Leukosit adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh. Jika kadarnya tinggi, ini sering menandakan adanya peradangan atau infeksi pada saluran reproduksi pria.
Infeksi seperti gonore, klamidia, atau uretritis non-spesifik dapat menyebabkan peradangan pada uretra atau epididimis. Peradangan ini memicu peningkatan sel darah putih yang membuat ejakulat tampak keruh, seringkali disertai rasa sakit saat buang air kecil atau bau yang tidak sedap.
Kelenjar prostat memproduksi sebagian besar cairan semen. Jika prostat meradang (prostatitis), baik karena bakteri maupun non-bakteri, komposisi cairan akan berubah. Hal ini dapat menyebabkan semen menjadi lebih keruh, terkadang disertai dengan nyeri panggul atau kesulitan buang air kecil.
Ketika seorang pria jarang berejakulasi, sperma cenderung menumpuk di saluran reproduksi. Konsentrasi yang tinggi ini dapat membuatnya terlihat lebih pekat dan sedikit keruh. Dehidrasi juga dapat membuat cairan mani menjadi lebih kental secara keseluruhan.
Meskipun varikokel (pembengkakan pembuluh darah di skrotum) lebih dikenal memengaruhi kualitas dan jumlah sperma, kondisi ini juga dapat secara tidak langsung memengaruhi tampilan semen melalui gangguan pada lingkungan testis.
Sebagian besar kasus perubahan warna sperma bersifat sementara dan akan kembali normal. Namun, Anda perlu segera berkonsultasi dengan dokter spesialis urologi jika kekeruhan disertai dengan gejala berikut:
Dokter biasanya akan memulai diagnosis dengan menanyakan riwayat kesehatan seksual Anda dan melakukan pemeriksaan fisik. Analisis air mani (spermiogram) akan menjadi kunci. Sampel akan diperiksa di bawah mikroskop untuk menghitung kadar sel darah putih, mengukur motilitas sperma, dan melihat morfologi.
Penanganan sepenuhnya bergantung pada penyebab yang mendasarinya:
Mengabaikan kondisi sperma keruh yang disertai gejala peradangan dapat meningkatkan risiko komplikasi jangka panjang pada sistem reproduksi Anda. Pemeriksaan dini memastikan diagnosis akurat dan perawatan yang tepat sasaran.