Bagi banyak individu, pengalaman menahan orgasme atau membiarkan gairah seksual mencapai ambang batas tanpa adanya ejakulasi adalah hal yang umum terjadi. Fenomena "sperma tidak jadi dikeluarkan" dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kontrol sadar, perubahan kondisi fisik, hingga faktor psikologis. Memahami apa yang terjadi di dalam tubuh saat hal ini terjadi penting untuk menepis mitos dan mengurangi kecemasan yang mungkin muncul.
Secara fisiologis, proses orgasme melibatkan dua fase utama: emisi (perpindahan sperma ke uretra posterior) dan ekspulsi (ejakulasi atau pengeluaran cairan). Ketika seseorang memutuskan atau secara tidak sengaja menghentikan stimulasi pada momen kritis, tubuh mungkin memasuki fase yang dikenal sebagai fase plateau tinggi, namun proses ekspulsi terhambat. Cairan yang sudah terkumpul di pangkal uretra (termasuk cairan pra-ejakulasi dan mungkin sebagian kecil sperma) seringkali tidak dikeluarkan secara eksternal.
Kekhawatiran utama ketika sperma tidak jadi dikeluarkan sering berkisar pada ke mana cairan tersebut pergi. Jawabannya cukup sederhana dari perspektif biologis: cairan tersebut akan diserap kembali oleh tubuh atau dikeluarkan secara pasif dalam bentuk mimpi basah (nocturnal emission) di kemudian hari, atau bahkan saat buang air kecil.
Saat stimulasi dihentikan sebelum mencapai titik ejakulasi, otot-otot di sekitar prostat dan vesikula seminalis yang berkontraksi untuk mempersiapkan ejakulasi akan mulai rileks. Meskipun sperma dan cairan seminal telah bercampur di uretra prostat, tidak ada dorongan ritmis dari otot bulbospongiosus dan iskiokavernosus yang diperlukan untuk mendorong cairan keluar. Tubuh tidak dirancang untuk 'menahan' cairan ini secara permanen. Sebagian besar cairan tersebut akan diserap kembali ke dalam aliran darah atau dikeluarkan secara bertahap tanpa disadari.
Penting untuk ditekankan bahwa menahan ejakulasi sesekali—meskipun terasa sedikit tidak nyaman atau menyebabkan sensasi penuh—umumnya tidak berbahaya bagi kesehatan jangka panjang. Tubuh memiliki mekanisme alami untuk mengelola kelebihan cairan reproduksi.
Ada beberapa alasan mengapa sperma mungkin tidak jadi dikeluarkan. Alasan yang paling sering ditemui adalah faktor psikologis dan pengendalian diri.
Ketika seseorang menahan sperma tidak jadi dikeluarkan, sensasi yang dominan seringkali adalah tekanan atau rasa penuh di area panggul bawah dan perineum. Ini disebabkan oleh kontraksi otot yang belum sepenuhnya dilepaskan dan akumulasi cairan di saluran uretra bagian dalam. Sensasi ini bisa disertai dengan peningkatan denyut jantung dan pernapasan yang cepat, khas fase plateau orgasme. Meskipun beberapa orang merasakan sedikit ketidaknyamanan setelahnya, sensasi ini biasanya mereda dalam beberapa menit setelah relaksasi.
Ada pula mitos bahwa menahan ejakulasi menyebabkan masalah prostat atau kandung kemih. Sains modern membantah hal ini selama dilakukan sesekali. Sistem reproduksi cukup efisien dalam mengatur ulang dirinya. Jika Anda secara rutin mengalami kesulitan mengeluarkan cairan meskipun menginginkannya, atau jika rasa sakit menyertai upaya penahanan, konsultasi dengan profesional kesehatan adalah langkah yang bijaksana untuk menyingkirkan kondisi medis yang mendasarinya.
Pada akhirnya, pengalaman sperma tidak jadi dikeluarkan adalah bagian normal dari spektrum respons seksual manusia. Baik itu hasil dari pilihan sadar untuk kontrol diri atau respons tak terduga dari tubuh, memahami proses fisiologis yang mendasarinya dapat memberikan ketenangan pikiran. Tubuh akan memproses dan membersihkan cairan tersebut melalui jalur alami tanpa menimbulkan kerusakan permanen.