Dalam khazanah literatur Islam, Al-Qur'an menyajikan panduan hidup yang utuh, mencakup dimensi ibadah ritualistik hingga etika sosial. Salah satu ayat yang seringkali menjadi sorotan dalam kajian keikhlasan dan niat adalah Surah Al-Isra ayat 25. Ayat ini, meskipun singkat, memuat pesan filosofis dan spiritual yang sangat mendalam mengenai motivasi di balik setiap perbuatan seorang hamba.
Konteks dan Kedalaman Ayat
Al Isra ayat 25 (sering juga disebut sebagai ayat ujian) diletakkan setelah serangkaian perintah dasar, termasuk larangan berbuat syirik dan perintah berbuat baik kepada orang tua. Penempatan ayat ini menegaskan bahwa substansi ketaatan tidak hanya terletak pada pelaksanaan perintah itu sendiri, melainkan pada kualitas niat di baliknya. Ayat ini berbicara mengenai keragaman manusia—keragaman latar belakang, pemahaman, dan bahkan cara beribadah.
Poin kunci pertama yang ditekankan adalah: "Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya di antara kamu." Ini adalah penegasan bahwa penilaian akhir bukanlah berdasarkan pujian manusia atau validasi sosial, melainkan sepenuhnya berada di bawah pengawasan dan pengetahuan Ilahi. Kesadaran ini harus menumbuhkan sikap rendah hati. Ketika kita merasa telah melakukan kebaikan terbaik, kita tetap harus sadar bahwa ada dimensi niat tersembunyi yang hanya diketahui oleh Sang Pencipta. Oleh karena itu, mencari keridhaan Allah harus menjadi prioritas utama, mengesampingkan keinginan untuk dipuji atau diakui oleh sesama manusia.
Tujuan Penciptaan Perbedaan
Ayat tersebut melanjutkan dengan sebuah kebenaran besar: "Jika Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan kamu satu umat saja..." Allah SWT memiliki kuasa mutlak untuk menyeragamkan seluruh umat manusia dalam segala hal. Namun, kebijaksanaan ilahi memilih jalan sebaliknya—menciptakan perbedaan. Mengapa? Jawabannya jelas: "...supaya Dia menguji kamu dalam apa yang telah Dia berikan kepadamu."
Perbedaan ini—dalam harta, ilmu, kekuatan fisik, dan kemampuan spiritual—bukanlah sebuah kecelakaan, melainkan sebuah mekanisme ujian. Ujian tersebut adalah kesempatan bagi setiap individu untuk menunjukkan respons sejati mereka terhadap nikmat yang telah dianugerahkan. Apakah kekayaan digunakan untuk menolong yang lemah? Apakah ilmu digunakan untuk menyebarkan kebenaran atau malah untuk kesombongan? Inilah ranah amal perbuatan yang menjadi tolok ukur kebenaran jalan seseorang.
Berlomba dalam Kebaikan: Manifestasi Ikhlas
Kesimpulan dari pemahaman ujian ini adalah perintah yang eksplisit: "Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan." Perlombaan di sini bukan dalam konteks persaingan negatif yang merusak ukhuwah, melainkan dalam semangat kompetisi positif untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena setiap manusia akan kembali kepada-Nya, fokus utama harus dialihkan dari kompetisi duniawi yang fana menuju akumulasi amal saleh yang kekal.
Keikhlasan menjadi filter utama dalam perlombaan ini. Jika niat kita bersih (murni karena Allah), maka setiap kebajikan—mulai dari senyum tulus, menyingkirkan duri dari jalan, hingga menafkahkan harta di jalan kebaikan—akan dihitung sebagai penambah nilai dalam timbangan akhirat. Sebaliknya, jika kebajikan dilakukan karena ingin dilihat atau dipuja (riya’), maka keindahan luar perbuatan tersebut akan gugur nilainya di hadapan Allah.
Kepulangan dan Keputusan Akhir
Ayat ditutup dengan pengingat universal: "Hanya kepada Allah lah kamu semua akan kembali, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan." Setiap perbedaan pendapat, perselisihan ideologi, perdebatan teologis, dan pertentangan duniawi yang terjadi di bumi ini akan berakhir di hadapan Hakim Yang Maha Adil. Pada hari itu, tidak ada lagi tempat untuk mencari pembelaan atau pembenaran dari makhluk lain; yang berbicara hanyalah catatan amal perbuatan yang dilandasi oleh keikhlasan hati.
Oleh karena itu, perenungan Al Isra ayat 25 menuntut seorang mukmin untuk terus menerus membersihkan interior hatinya. Keikhlasan adalah kunci yang membuka pintu penerimaan amal. Dengan memahami bahwa perbedaan adalah sarana ujian dan bahwa tujuan akhir adalah kepulangan kepada Allah, seorang Muslim didorong untuk mengalihkan energi dari perselisihan dangkal menjadi kompetisi produktif dalam menebar kebaikan kepada sesama, semata-mata mengharapkan ridha Ilahi.