Setiap Muslim tentu akrab dengan peristiwa luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu Isra Mi'raj. Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah mukjizat agung yang meneguhkan iman dan memberikan petunjuk spiritual yang mendalam bagi umat manusia. Ketika mengingat perjalanan suci ini, bibir kita secara otomatis akan mengucapkan puji syukur, "Subhanalladzi asro bi 'abdihi lailan minal Masjidil Haram ilal Masjidil Aqsa."
Simbolisasi perjalanan agung di malam hari.
Makna Mendalam Subhanalladzi Asro
Frasa "Subhanalladzi asro" yang berarti "Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya" merupakan pembuka dari kesadaran akan kebesaran Ilahi. Kata "Subhanallah" adalah bentuk pengakuan bahwa Allah SWT berada di luar segala kekurangan dan keterbatasan, terutama ketika membahas sebuah peristiwa yang melampaui hukum alam yang kita pahami. Isra Mi'raj terbagi menjadi dua fase: Isra, yaitu perjalanan dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, dan Mi'raj, yaitu perjalanan Nabi SAW dari Masjidil Aqsa naik ke langit hingga Sidratul Muntaha.
Perjalanan Isra menunjukkan ketabahan dan solidaritas Rasulullah SAW. Beliau baru saja menghadapi tahun-tahun kesedihan ('Amul Huzn) di mana dukungan terbesar beliau, yaitu Khadijah RA dan pamannya, Abu Thalib, telah wafat. Perjalanan ini menjadi penyegaran dan pembuktian bahwa pertolongan Allah pasti datang di saat yang paling genting. Masjidil Aqsa, sebagai tujuan pertama, juga menegaskan koneksi historis antara risalah para Nabi terdahulu dengan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Pemberian Shalat Lima Waktu
Puncak spiritual dari Mi'raj adalah pertemuan langsung Nabi Muhammad SAW dengan Allah SWT, di mana di saat itulah diperintahkan kewajiban Shalat lima waktu sehari semalam. Awalnya, Allah memerintahkan lima puluh kali shalat. Namun, atas nasihat Nabi Musa AS yang lebih berpengalaman dalam menghadapi umat yang keras kepala, Rasulullah SAW kembali kepada Allah dan memohon keringanan, hingga akhirnya ditetapkan lima kali shalat.
Perintah shalat lima waktu ini adalah hadiah tak ternilai. Ini adalah ikatan vertikal yang memastikan bahwa setiap Muslim selalu memiliki jembatan langsung menuju Sang Pencipta, terlepas dari kondisi atau kesibukan duniawi. Ini adalah pengingat terus-menerus akan keagungan Allah yang tersemat dalam rutinitas harian.
Setelah kembali dari Mi'raj, Nabi SAW menceritakan pengalamannya. Banyak yang terkejut, terutama orang-orang yang baru saja memeluk Islam. Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA segera membenarkan tanpa ragu sedikit pun, sehingga beliau mendapatkan gelar Ash-Shiddiq (yang membenarkan). Kisah ini mengajarkan kita pentingnya iman yang teguh dan keyakinan total terhadap ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW, bahkan ketika akal manusiawi sulit mencernanya.
Hikmah di Balik Perjalanan Langit
Perjalanan Mi'raj bukan sekadar tontonan spektakuler, melainkan mengandung banyak pelajaran. Salah satu hikmahnya adalah melihat gambaran neraka dan surga. Nabi SAW diperlihatkan berbagai macam siksaan bagi para pelaku maksiat, seperti memakan bangkai (ghibah), bersedekah dengan harta yang haram, dan menunda shalat hingga waktu habis. Penglihatan ini menjadi peringatan keras bagi umat Islam tentang konsekuensi perbuatan buruk.
Di sisi lain, beliau juga melihat kenikmatan surga bagi orang-orang yang taat. Hal ini memotivasi umat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Setiap langkah Nabi SAW dalam perjalanan suci ini, mulai dari Isra hingga kembali ke bumi, adalah validasi bahwa ada dimensi kehidupan yang lebih luas dan kekal dari dunia fana ini. Pengakuan terhadap kebesaran Allah yang memampukan perjalanan ini, yang termaktub dalam Subhanalladzi asro, harus terus menghiasi hati dan lisan kita.
Peristiwa ini menegaskan status Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi dan utusan Allah yang memiliki keistimewaan unik. Ia menunjukkan kedekatan beliau dengan Khaliq-nya. Bagi umat Islam, Isra Mi'raj adalah sumber inspirasi untuk membersihkan hati, menjaga shalat, dan selalu mengingat bahwa di balik kesulitan dunia, terdapat janji pertolongan dan kemuliaan dari Allah SWT. Marilah kita senantiasa merenungkan keajaiban ini dan menjadikannya sebagai pendorong untuk meningkatkan kualitas ibadah kita sehari-hari.