Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran moral, kisah para nabi, dan petunjuk ilahi. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan mendalam adalah ayat ke-80, yang berbicara tentang pentingnya konsistensi dalam menjalankan ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT.
Ilustrasi Simbol Bimbingan
Teks Surah Al-Isra Ayat 80
Ayat ini secara spesifik diturunkan untuk Nabi Muhammad SAW, namun maknanya universal bagi seluruh umat Islam dalam menghadapi tantangan dakwah dan kehidupan sehari-hari.
Terjemahan Ayat
Dan katakanlah, "Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu pertolongan yang nyata."
Konteks dan Kedalaman Makna
Ayat 80 ini sering dikaitkan dengan peristiwa penting dalam sejarah kenabian, khususnya hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah. Permintaan yang terkandung di dalamnya adalah permohonan yang sangat mendasar dan mencakup seluruh spektrum kehidupan seorang mukmin.
1. Meminta Masuk dengan Kebenaran (Mudkhala Shidqin)
Permintaan "masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar" bukan sekadar meminta izin memasuki suatu lokasi fisik. Ini adalah doa agar setiap langkah awal—apakah itu dalam memulai usaha, memasuki lingkungan baru, atau mengambil keputusan besar—dilakukan di atas landasan kebenaran (shidq) dan kejujuran. Dalam konteks Hijrah, ini berarti memasuki Madinah dengan niat tulus untuk membangun fondasi Islam yang kuat, bebas dari tipu daya atau kelemahan.
2. Meminta Keluar dengan Kebenaran (Mukhraja Shidqin)
Ini adalah bagian yang sama pentingnya. Keluar yang benar berarti mengakhiri suatu fase atau situasi dengan selamat, terhormat, dan sesuai ridha Allah. Tidak hanya sukses dalam permulaan, tetapi juga mampu menyelesaikan dengan baik. Bagi seorang pejuang atau dai, ini berarti mampu mundur atau berpisah tanpa meninggalkan musuh dalam posisi yang lebih kuat atau tanpa mengorbankan prinsip. Ini adalah doa agar keberhasilan tidak menjadi kesombongan dan kegagalan tidak menjadi keputusasaan.
3. Meminta Pertolongan yang Nyata (Sultanan Nasiira)
Bagian ketiga adalah permohonan inti kekuatan. "Pertolongan yang nyata" (sultanan nasiira) merujuk pada otoritas, kekuatan, atau dukungan yang efektif dan terbukti. Ini bukanlah sekadar harapan, melainkan permintaan akan sarana konkret dari Allah untuk mewujudkan kebenaran. Dalam banyak penafsiran, ini dimaknai sebagai kekuatan spiritual, ilmu yang memadai, pengikut yang setia, atau kemampuan untuk menegakkan keadilan.
Relevansi Surah Al-Isra Ayat 80 Hari Ini
Ayat ini adalah panduan praktis bagi setiap Muslim yang menghadapi transisi atau tantangan. Dalam konteks modern, ayat ini relevan dalam berbagai aspek kehidupan:
- Karier dan Bisnis: Memohon agar setiap investasi atau proyek dimulai dengan integritas dan diakhiri dengan hasil yang bersih secara etika dan hukum.
- Pendidikan: Meminta agar proses belajar membawa pada pemahaman yang benar dan bukan hanya sekadar gelar tanpa substansi.
- Hubungan Sosial: Memastikan bahwa memasuki pertemanan atau komunitas dilakukan dengan niat baik dan keluar dari konflik tanpa dendam yang merusak.
Inti dari Surah Al-Isra ayat 80 adalah pengakuan total bahwa manusia lemah dan tidak memiliki daya upaya kecuali dari Allah. Semua pergerakan kita, baik saat memulai maupun mengakhiri, harus selalu di bawah naungan kebenaran ilahi, dan untuk menegakkan kebenaran tersebut, kita memerlukan dukungan dan kekuasaan yang Dia berikan.
Membaca dan merenungkan ayat ini secara rutin mengingatkan kita untuk selalu mengevaluasi niat kita di setiap permulaan dan memastikan bahwa kita tidak pernah tergelincir dari jalan yang lurus, memohon agar Allah senantiasa memberikan 'pertolongan yang nyata' dalam setiap langkah perjuangan kita di dunia ini.