Ilustrasi asupan nutrisi untuk meningkatkan kualitas dan kekentalan sperma.
Kualitas sperma sering kali menjadi perhatian utama bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan. Salah satu indikator yang sering diperbincangkan adalah kekentalan air mani (semen). Secara medis, kekentalan dipengaruhi oleh komposisi cairan mani, termasuk konsentrasi protein, mineral, dan zat lain yang diproduksi oleh kelenjar prostat dan vesikula seminalis. Sperma yang terlalu encer mungkin memerlukan perhatian lebih lanjut, meskipun kekentalan saja bukan penentu utama kesuburan.
Kabar baiknya, gaya hidup dan pola makan memainkan peran krusial dalam produksi dan kualitas sperma. Ada beberapa langkah nyata yang bisa Anda ambil untuk mendukung tubuh memproduksi cairan mani yang lebih kental dan sehat.
Air adalah komponen utama dari cairan mani. Dehidrasi adalah salah satu penyebab paling umum dari air mani yang tampak encer atau memiliki volume rendah. Ketika tubuh kekurangan cairan, ia akan memprioritaskan fungsi vital lainnya, yang berdampak pada komposisi cairan non-esensial seperti air mani.
Kekentalan dan motilitas (gerakan) sperma sangat bergantung pada ketersediaan vitamin dan mineral tertentu. Fokus pada makanan yang kaya akan antioksidan dan mineral berikut:
Zinc adalah mineral vital untuk sintesis DNA dalam sperma dan produksi testosteron. Kekurangan zinc terbukti berhubungan dengan volume air mani yang rendah dan kualitas yang buruk. Sumber terbaik zinc meliputi:
Asam amino ini sangat penting untuk kesehatan sperma. L-Arginine membantu dalam produksi oksida nitrat yang meningkatkan aliran darah, sementara L-Carnitine adalah antioksidan kuat yang mendukung motilitas dan integritas membran sperma. Anda bisa mendapatkannya dari produk susu, telur, dan daging unggas.
Sperma sangat rentan terhadap kerusakan akibat radikal bebas (stres oksidatif). Vitamin C dan E bertindak sebagai tameng pelindung. Perbanyak konsumsi buah jeruk, beri-berian, kiwi, alpukat, dan kacang-kacangan.
Obesitas telah terbukti menurunkan kualitas sperma secara keseluruhan, termasuk volume dan viskositas (kekentalan). Kelebihan lemak tubuh dapat mengganggu keseimbangan hormon reproduksi.
Suhu optimal untuk produksi sperma sedikit lebih rendah dari suhu tubuh normal. Paparan panas berlebihan dapat mengurangi jumlah dan kualitas sperma, dan mungkin memengaruhi viskositas cairan pelindungnya.
Jika Anda terlalu sering berejakulasi (misalnya, beberapa kali sehari), tubuh tidak memiliki cukup waktu untuk memproduksi dan mengisi kembali cairan mani dengan konsentrasi nutrisi dan protein yang optimal. Memberi jeda waktu 2 hingga 3 hari antara ejakulasi dapat membantu meningkatkan volume dan kekentalan secara alami.