Kajian Mendalam: Surah Al-Isra' Ayat 84

Memahami Pesan Ilahi tentang Konsistensi Perilaku

Simbol Konsistensi dan Tujuan

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا

Katakanlah: "Setiap orang berbuat menurut keadaannya (kecenderungannya masing-masing), maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya." (QS. Al-Isra' [17]: 84)

Konteks Ayat dan Makna Sentral

Ayat ke-84 dari Surah Al-Isra' (atau dikenal juga sebagai Surah Bani Israil) ini memuat pesan filosofis dan teologis yang sangat mendalam mengenai sifat dasar manusia dan pertanggungjawaban amal. Ayat ini muncul setelah pembahasan mengenai wahyu, kebangkitan, dan tuntutan kaum Quraisy terhadap bukti kenabian. Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menjawab keraguan dan penolakan mereka dengan penegasan bahwa setiap individu akan bertindak sesuai dengan kecenderungan batiniahnya.

Frasa kunci dalam ayat ini adalah "Alaa shaa-kila-tih" (عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ), yang secara harfiah berarti "di atas wadahnya" atau "sesuai dengan bentuknya." Dalam tafsir, kata ini dimaknai sebagai cara, perilaku, kebiasaan, atau kecenderungan spiritual dan moral seseorang. Jika seseorang terbiasa menanamkan kebaikan, maka hasil amalannya akan baik. Sebaliknya, jika hatinya dipenuhi kesesatan, maka tindakannya akan mengikuti jalan tersebut.

Implikasi Penting dari Surah 17 Ayat 84

Ayat ini memberikan landasan kuat mengenai konsep sifat dasar dan konsistensi perilaku. Ia menegaskan bahwa amal perbuatan bukanlah tindakan sporadis, melainkan cerminan dari karakter yang telah terbentuk. Hal ini sangat relevan dalam konteks pembentukan akhlak. Jika kita ingin hasil akhir yang baik (hidayah atau jalan yang lurus), kita harus fokus pada pembenahan "wadah" atau karakter internal kita saat ini.

Selanjutnya, ayat ini ditutup dengan penegasan otoritas Ilahi: "Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya." Ini adalah penutup yang menenangkan sekaligus peringatan. Walaupun manusia mungkin tampak keliru atau salah dalam menilai orang lain, Allah SWT memiliki pengetahuan absolut tentang niat sejati dan konsistensi perilaku setiap hamba. Tidak ada perbuatan baik atau buruk yang tersembunyi dari-Nya. Ini menghilangkan keraguan tentang keadilan dan pengawasan Allah.

Hubungan dengan Prinsip Keadilan dan Hidayah

Pesan tentang "jalan yang lebih benar" (أَهْدَىٰ سَبِيلًا) menggarisbawahi bahwa tujuan akhir dari ketaatan adalah petunjuk yang hakiki. Jalan yang benar adalah jalan yang membawa keselamatan di dunia dan akhirat. Ketika seseorang telah menetapkan dirinya pada kecenderungan yang baik (iman dan amal saleh), secara otomatis ia akan berada di jalur yang diridai Allah.

Sisi lain yang perlu direnungkan adalah bahwa ayat ini mendorong introspeksi diri yang jujur. Jika seseorang merasa jauh dari kebenaran, ayat ini mengingatkan bahwa penyebabnya mungkin terletak pada "wadah" pribadinya. Perlu adanya upaya keras untuk mengubah pola pikir, kebiasaan buruk, dan kecenderungan negatif yang telah mengakar. Mengubah wadah memerlukan kesabaran dan ketekunan, karena ia mempengaruhi semua tindakan yang keluar dari diri kita.

Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan sosial dan spiritual, Surah Al-Isra' ayat 84 mengajarkan kita untuk tidak mudah menghakimi orang lain berdasarkan penampilan luar atau satu dua tindakan. Karena setiap orang beroperasi sesuai dengan kecenderungan mereka, kita harus fokus pada perbaikan diri kita sendiri. Alih-alih menghabiskan energi mengkritik orang lain, energi tersebut lebih baik dialokasikan untuk memastikan bahwa "shakilah" kita—niat dan karakter kita—selalu mengarah kepada kebaikan dan kebenaran yang diridai Allah.

Ini juga merupakan dorongan bagi para dai dan pendidik. Untuk mengubah perilaku massa, perubahan harus dimulai dari pondasi hati dan pikiran individu. Perubahan yang bersifat dangkal tidak akan bertahan lama jika wadah (karakter) tidak diperbaiki. Dengan demikian, ayat ini berfungsi sebagai pedoman abadi tentang pentingnya integritas internal sebagai prasyarat untuk perbuatan eksternal yang lurus.

Singkatnya, Surah 17 ayat 84 adalah cermin bagi jiwa kita. Ia mengingatkan bahwa perilaku kita adalah proyeksi dari isi hati kita, dan hanya Allah yang Maha Tahu hasil akhir dari proyeksi tersebut. Memahami ayat ini seharusnya memotivasi kita untuk terus membersihkan dan meluruskan hati, agar tindakan kita senantiasa konsisten berada di jalan petunjuk-Nya.

🏠 Homepage