Ilustrasi simbolis ketulusan hati dalam beribadah.
"Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang ada di langit dan di bumi. Dan sungguh, Kami telah melebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian yang lain, dan Kami berikan Zabur kepada Dawud (Daud)."
Ayat ke-25 dari Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Surah Bani Israil, adalah sebuah pernyataan tegas mengenai luasnya ilmu Allah SWT dan struktur hierarki spiritual yang telah ditetapkan-Nya, terutama terkait dengan para nabi. Ayat ini berfungsi sebagai pengingat mendasar bahwa segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, berada dalam pengetahuan sempurna Ilahi.
Fokus utama ayat ini terbagi menjadi dua poin besar: Pertama, penegasan universalitas ilmu Allah, dan kedua, penegasan konsep keutamaan (fadilah) di antara para Rasul.
Frasa "Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang ada di langit dan di bumi" menekankan bahwa tidak ada entitas, makhluk halus, malaikat, jin, manusia, maupun fenomena alam yang luput dari pengawasan dan pengetahuan Allah. Ini adalah penegasan tauhid rububiyah (penguasaan Tuhan). Bagi seorang mukmin, kesadaran ini seharusnya memunculkan rasa aman sekaligus rasa takut yang proporsional. Kita tidak perlu khawatir akan penilaian makhluk lain, karena Penilai tertinggi telah mengetahui niat terdalam kita.
Poin kedua, "Dan sungguh, Kami telah melebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian yang lain," membahas prinsip keunggulan yang diberikan Allah kepada para utusan-Nya berdasarkan hikmah dan mandat khusus yang diemban. Islam mengajarkan penghormatan total terhadap semua nabi, namun ayat ini menjelaskan bahwa pemberian status dan keutamaan tidaklah seragam. Tujuannya bukan untuk menciptakan perpecahan, melainkan untuk menunjukkan tingkatan risalah dan ujian yang berbeda-beda.
Sebagai contoh konkret dari keutamaan tersebut, ayat ini melanjutkan dengan menyebutkan: "dan Kami berikan Zabur kepada Dawud (Daud)." Kitab Zabur (Mazmur) yang diturunkan kepada Nabi Daud AS adalah salah satu dari kitab suci utama yang diimani umat Islam. Pemberian kitab suci ini menjadi salah satu bentuk keistimewaan dan kemuliaan yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Daud, yang terkenal pula dengan suaranya yang indah saat melantunkan kitab tersebut.
Untuk memahami konteks ayat 25 secara utuh, penting untuk melihatnya berdekatan dengan ayat 24 yang mendahuluinya. Ayat 24 berbicara tentang kewajiban berbakti kepada orang tua dan kerendahan hati: "Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, 'Ya Tuhanku, sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil'."
Setelah memerintahkan ketaatan dan kasih sayang dalam hubungan vertikal (kepada orang tua), Allah segera menyambungnya dengan ayat 25 yang membahas hubungan horizontal spiritual, yaitu ketaatan dan penghormatan terhadap para Nabi. Transisi ini menyiratkan sebuah pelajaran penting: **Keikhlasan dalam ibadah pribadi (seperti berbakti kepada orang tua) harus diiringi dengan kesadaran akan otoritas Ilahi yang memilih dan mengutamakan utusan-utusan-Nya.** Jika kita diperintahkan untuk bersikap rendah hati kepada orang tua, bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap para Nabi yang kedudukannya jauh lebih tinggi dalam struktur wahyu?
Ayat 25 mengajarkan kita untuk bersikap tawadhu (rendah hati) dalam mengakui keutamaan. Allah menetapkan siapa yang lebih utama; tugas kita adalah menerima ketetapan tersebut dengan iman. Ini mencegah umat Islam terjebak dalam pandangan bahwa semua figur otoritas spiritual memiliki kapasitas atau kedudukan yang sama persis.
Mengakui keutamaan Nabi Daud AS dalam konteks ini adalah pengakuan bahwa Allah memberikan karunia (seperti kitab suci) berdasarkan tujuan ilahi yang terencana. Ini juga memotivasi umat untuk meneladani kualitas-kualitas agung dari para nabi yang disebutkan, sebagaimana kita meneladani kesalehan Nabi Daud dalam ibadah dan kepemimpinan. Dengan demikian, Surah Al-Isra ayat 25 mengukuhkan bahwa pengetahuan Allah Maha Luas, dan kebijaksanaan-Nya tercermin dalam pemberian kedudukan istimewa kepada para pembawa risalah-Nya.