Simbol ketenangan dan kepastian dari Allah.
Dalam lautan kehidupan yang seringkali penuh gelombang ujian, kita seringkali merasa terombang-ambing dan ragu akan nasib kita. Namun, di dalam kitab suci Al-Qur'an, terdapat ayat-ayat yang menjadi lentera penuntun, memberikan keteduhan hati dan keyakinan akan kekuasaan serta kasih sayang Allah SWT. Salah satu ayat yang memiliki makna mendalam dan menjadi sumber kekuatan bagi kaum beriman adalah Surah Al-Anfal ayat 26.
Ayat ini turun pada masa ketika umat Islam di Mekah masih dalam jumlah yang kecil dan sangat lemah. Mereka menghadapi berbagai bentuk penindasan, permusuhan, dan ancaman dari kaum Quraisy yang dominan. Kehidupan mereka penuh dengan ketakutan dan ketidakpastian. Dalam kondisi seperti inilah Allah mengingatkan mereka untuk mengenang kembali bagaimana mereka berada dalam keadaan yang begitu rentan.
Kata "mustadh'afuun" (tertindas) menggambarkan kondisi fisik dan mental mereka yang lemah. Mereka tidak memiliki kekuatan militer maupun pengaruh sosial yang signifikan. Ancaman selalu mengintai, bahkan untuk sekadar menjalani kehidupan sehari-hari. Ketakutan akan dicelakai, diusir, atau dibunuh adalah hal yang lumrah dialami.
Namun, di tengah kegelapan dan keputusasaan itu, Allah tidak membiarkan mereka sendirian. Ayat ini secara tegas menyebutkan tiga bentuk pertolongan yang Allah berikan:
Bagi kita yang hidup di masa kini, Surah Al-Anfal ayat 26 tetap relevan dan memberikan pelajaran berharga:
1. Selalu Bersyukur: Perintah terakhir dalam ayat ini adalah agar kita senantiasa bersyukur ("la'allakum tasykurun"). Syukur bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi diwujudkan dalam tindakan. Mengingat kembali nikmat Allah di saat kita merasa lemah atau menghadapi kesulitan adalah cara terbaik untuk membangkitkan rasa syukur dan mendekatkan diri kepada-Nya.
2. Kekuatan dalam Kelemahan: Ayat ini mengajarkan bahwa kelemahan fisik atau jumlah bukanlah penghalang untuk meraih pertolongan Allah. Justru, di saat kita merasa paling rapuh, sanalah kita paling membutuhkan dan paling mungkin merasakan kehadiran dan pertolongan Allah.
3. Ketergantungan pada Allah: Ujian kehidupan seringkali dirancang untuk menguji sejauh mana ketergantungan kita kepada Allah. Ketika segalanya terasa sulit, kita diingatkan untuk kembali kepada sumber kekuatan sejati, yaitu Sang Pencipta.
4. Menghargai Nikmat: Dengan mengingat masa-masa sulit, kita akan lebih menghargai nikmat dan kenyamanan yang kita miliki saat ini. Ini akan mencegah kita dari sikap sombong dan lalai.
Pada hakikatnya, Surah Al-Anfal ayat 26 adalah sebuah manifesto keimanan. Ia mengajak kita untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas, mengakui peran sentral Allah dalam setiap keadaan, dan selalu menjadikan rasa syukur sebagai dasar dari setiap tindakan. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa mengingat kebaikan Allah dan merasakan pertolongan-Nya dalam setiap langkah kehidupan.