Dalam lautan ayat-ayat Al-Qur'an, setiap firman Allah SWT memiliki kedalaman makna dan petunjuk bagi umat manusia. Salah satu ayat yang sering direnungi adalah Surah Al-Anfal ayat 28. Ayat ini bukan sekadar sebuah pengingat, melainkan sebuah pencerahan mendasar tentang hakikat dari apa yang kita anggap sebagai aset terpenting dalam kehidupan duniawi: harta benda dan keturunan. Memahami ayat ini secara mendalam dapat mengubah cara pandang kita terhadap cobaan dan nikmat yang Allah berikan.
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Artinya: "Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu adalah ujian (fitnah), dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar." (QS. Al-Anfal: 28)
Kata kunci dalam ayat ini adalah "fitnah". Dalam konteks bahasa Arab, "fitnah" memiliki makna yang luas, tidak hanya terbatas pada bencana atau ujian dalam arti negatif. "Fitnah" bisa berarti ujian, cobaan, godaan, atau bahkan sesuatu yang memalingkan dari kebenaran. Dalam ayat ini, harta dan anak-anak diperkenalkan sebagai sumber "fitnah". Mengapa? Karena keduanya memiliki potensi untuk menguji keimanan, kesabaran, dan kepatuhan seseorang kepada Allah.
Harta benda yang melimpah dapat menimbulkan rasa kesombongan, kekikiran, atau bahkan membuat seseorang lupa untuk menunaikan hak-hak Allah, seperti zakat dan sedekah. Kita mungkin tergoda untuk mengumpulkan lebih banyak harta, menginvestasikannya demi keuntungan pribadi semata, hingga mengorbankan waktu dan energi yang seharusnya bisa digunakan untuk beribadah atau berbuat kebaikan. Harta bisa menjadi ujian ketika kita dihadapkan pada pilihan antara menggunakannya di jalan Allah atau di jalan yang menyimpang dari ajaran-Nya.
Demikian pula, anak-anak yang kita cintai dapat menjadi sumber "fitnah". Kegembiraan dan cinta yang mendalam kepada mereka terkadang bisa membuat orang tua terlalu fokus pada urusan duniawi mereka, melupakan kewajiban mendidik anak-anak dalam nilai-nilai agama dan moralitas. Ada kalanya orang tua mengabaikan hak anak untuk mendapatkan pendidikan agama yang layak demi mengejar kesuksesan duniawi bagi anak mereka. Perhatian yang berlebihan pada urusan anak, hingga mengabaikan kewajiban terhadap Allah, adalah bentuk "fitnah" yang perlu diwaspadai.
Ayat ini secara implisit mengajarkan kita untuk mengubah cara pandang kita terhadap harta dan anak-anak. Mereka bukanlah milik kita seutuhnya, melainkan titipan dari Allah SWT. Sebagaimana titipan, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaganya, mengembangkannya dengan cara yang diridhai-Nya, dan siap mengembalikannya kapan pun Allah berkehendak.
Ketika kita memandang harta sebagai titipan, kita akan lebih termotivasi untuk menggunakannya dalam kebaikan. Kita akan lebih ringan untuk bersedekah, membantu sesama, dan mendonasikan sebagian harta kita di jalan Allah. Harta yang disalurkan untuk kebaikan justru akan menjadi investasi akhirat yang berharga, bukan sekadar tumpukan benda mati yang bermanfaat di dunia semata.
Begitu pula dengan anak-anak. Ketika kita melihat mereka sebagai titipan, kita akan lebih fokus pada mendidik mereka menjadi pribadi yang taat kepada Allah, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi masyarakat. Tanggung jawab mendidik mereka tidak hanya sebatas memberikan pendidikan formal dan materi, tetapi lebih krusial adalah menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini, mengajarkan mereka tentang kewajiban kepada Sang Pencipta, dan membimbing mereka agar menjadi generasi yang shaleh dan shalehah.
Bagian akhir dari ayat ini memberikan sebuah penegasan yang sangat penting: "dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar." Ini adalah janji dan motivasi terbesar bagi setiap mukmin yang mampu melewati ujian harta dan anak-anak dengan baik. Setiap pengorbanan, setiap usaha untuk menunaikan hak-hak Allah melalui harta dan keluarga, serta setiap kesabaran dalam menghadapi ujian, akan berbuah pahala yang berlipat ganda di sisi Allah SWT.
Pahala ini bukan sekadar imbalan materi di dunia, melainkan anugerah yang abadi di akhirat kelak. Di saat semua harta dan keluarga di dunia tidak lagi memiliki nilai di hadapan Allah, amal shaleh dan ketakwaanlah yang akan menjadi bekal utama. Ayat ini mengajak kita untuk senantiasa mengutamakan keridhaan Allah dalam setiap urusan kita, termasuk dalam mengelola harta dan mendidik keturunan.
Dengan memahami Surah Al-Anfal ayat 28, kita diingatkan bahwa kehidupan dunia adalah tempat ujian. Harta dan anak-anak yang kita miliki adalah alat untuk menguji sejauh mana keimanan dan kepatuhan kita kepada Allah. Jika kita berhasil melewatinya dengan penuh kesadaran dan ketakwaan, maka janji pahala yang besar dari Allah SWT adalah imbalan yang tak ternilai harganya, yang akan kita nikmati di kehidupan keabadian.