Visualisasi sederhana makna pertolongan dan bimbingan Ilahi.
Ayat ketiga dari Surah Al-Anfal ini merupakan pengantar yang sangat penting dalam pemahaman Islam. Surah Al-Anfal sendiri berbicara tentang harta rampasan perang, namun ayat pembukanya justru bergeser ke aspek fundamental keimanan dan perilaku seorang mukmin sejati. Ayat ini menjelaskan ciri-ciri orang yang berhak mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah SWT, yang diisyaratkan dalam ayat sebelumnya. Kemenangan bukan semata-mata karena kekuatan fisik atau strategi perang, melainkan karena kualitas spiritual dan amal saleh para pejuangnya.
Tiga pilar utama disebutkan dalam ayat ini: beriman kepada yang gaib (al-ghaib), mendirikan salat (iqamah al-shalah), dan menafkahkan rezeki (infak). Ketiganya saling terkait dan membentuk pondasi kehidupan seorang Muslim.
Konsep al-ghaib merujuk pada segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh panca indra manusia, namun diyakini keberadaannya melalui wahyu Allah SWT. Ini mencakup keyakinan kepada Allah SWT itu sendiri, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik maupun buruk. Beriman kepada yang gaib adalah bukti kebesaran akal dan ketundukan jiwa. Seseorang yang beriman kepada yang gaib tidak memerlukan bukti fisik untuk meyakini kebenaran ilahi. Keyakinan ini menjadi landasan utama yang membedakan seorang mukmin dari yang lainnya. Tanpa keyakinan pada hal-hal yang tidak terlihat, maka dasar agama ini akan runtuh. Keimanan kepada yang gaib juga mendorong seseorang untuk senantiasa merasa diawasi oleh Allah SWT, sehingga menjaga dirinya dari perbuatan maksiat dan mendorongnya untuk berbuat kebaikan.
Shalat adalah tiang agama. Ayat ini menggunakan frasa "mendirikan salat" (yuqimuna al-shalah), bukan sekadar "menjalankan salat". Ini menyiratkan makna yang lebih dalam, yaitu melaksanakan salat dengan segala syarat, rukun, kekhusyukan, dan tepat waktu. Salat adalah sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Tuhannya. Melalui salat, seorang mukmin mendapatkan ketenangan jiwa, kekuatan spiritual, dan bimbingan ilahi. Salat menjadi pengingat akan kewajiban kepada Allah dan juga berfungsi sebagai pencegah perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah di surah Al-Ankabut ayat 45. Dengan mendirikan salat, seorang mukmin memelihara hubungannya dengan Sang Pencipta, yang merupakan sumber segala kekuatan dan pertolongan.
Aspek ketiga yang ditekankan adalah kedermawanan dan kepedulian sosial. "Menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka" berarti mengeluarkan sebagian dari harta yang telah Allah karuniakan untuk disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti fakir miskin, anak yatim, janda, dan untuk kepentingan umum lainnya seperti berjihad di jalan Allah. Infak ini bukan sekadar kewajiban, tetapi juga bentuk rasa syukur atas nikmat rezeki yang Allah berikan. Dengan berinfak, seorang mukmin menunjukkan bahwa hartanya adalah titipan Allah dan ia siap menggunakannya di jalan yang diridai-Nya. Tindakan ini juga melatih diri untuk tidak menjadi pelit dan menumbuhkan rasa empati terhadap sesama. Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi mereka yang bersedekah di jalan-Nya.
Ketiga elemen ini—iman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan infak—adalah fondasi penting bagi seorang mukmin. Mereka yang senantiasa menjaga dan mengamalkan ketiga hal ini adalah orang-orang yang diharapkan pertolongan dan bimbingan Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan mereka, termasuk dalam menghadapi tantangan, kesulitan, bahkan peperangan seperti yang dibahas dalam konteks Surah Al-Anfal. Ayat ini menegaskan bahwa kekuatan sejati seorang Muslim bukan hanya terletak pada jumlah pasukan atau persenjataan, tetapi lebih pada kedalaman iman, kekhusyukan ibadah, dan keluasan kepedulian sosial mereka.