Surat Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali petunjuk penting bagi kehidupan seorang Muslim, baik dalam urusan ibadah, muamalah, maupun hubungan sosial. Salah satu ayat yang sarat makna dan memuat pelajaran historis adalah ayat ke-11. Ayat ini secara spesifik ditujukan kepada orang-orang yang telah menyatakan keimanan mereka, yakni kaum Mukminin.
Pesan utama ayat ini adalah perintah untuk mengingat nikmat Allah. Mengingat nikmat bukan sekadar ucapan syukur lisan, melainkan kesadaran mendalam akan pertolongan dan pemeliharaan Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan. Ayat ini memberikan contoh konkret mengenai nikmat tersebut, yakni sebuah peristiwa penting di masa awal Islam.
Kisah Penahanan Tangan Musuh
Ayat ini merujuk pada suatu momen krusial ketika sekelompok kaum (yang sering ditafsirkan merujuk pada Bani Mudlij atau kaum kafir Quraisy dalam konteks tertentu) bertekad dan berencana untuk menyerang serta mencelakakan kaum Muslimin. Ancaman itu nyata dan hampir terwujud. Namun, atas izin dan kekuasaan Allah, tangan-tangan yang hendak mengulurkan kejahatan itu ditahan.
Fenomena "tertahannya tangan" ini memberikan pelajaran fundamental. Musuh mungkin merencanakan dengan matang, mengerahkan kekuatan, dan penuh dengan niat jahat, tetapi segala upaya mereka menjadi sia-sia jika Allah belum mengizinkannya. Hal ini menegaskan bahwa kekuatan hakiki bukan terletak pada jumlah pasukan atau persenjataan, melainkan pada dukungan dan intervensi Ilahi. Bagi orang yang beriman, ini adalah pengingat kuat bahwa Allah adalah Pelindung yang Maha Mampu.
Ilustrasi simbolis perlindungan ilahi.
Dua Pilar Keimanan: Taqwa dan Tawakal
Setelah mengingatkan tentang pertolongan yang telah diberikan, ayat 11 melanjutkan dengan dua perintah penting yang harus dipegang teguh oleh kaum Mukminin: bertaqwa kepada Allah dan bertawakal hanya kepada-Nya.
1. Kewajiban Taqwa
Taqwa (bertakwa) berarti menjaga diri dari murka Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam konteks setelah terhindar dari bahaya, taqwa menjadi manifestasi syukur yang paling hakiki. Ketika Allah telah menyingkirkan penghalang berupa ancaman fisik, seorang mukmin seharusnya semakin meningkatkan ketaatannya, bukan justru terlena atau lalai. Taqwa adalah benteng spiritual yang melindungi dari bahaya yang tak terlihat di masa depan.
2. Keutamaan Tawakal
Perintah terakhir adalah, "dan hanya kepada Allah-lah orang-orang yang beriman itu bertawakal." Tawakal adalah penyerahan hasil akhir kepada kehendak Allah setelah berusaha semaksimal mungkin. Dalam menghadapi musuh, usaha seorang mukmin adalah mempersiapkan diri (seperti yang diperintahkan dalam ayat lain), namun hasil akhir dari pertempuran atau konfrontasi tersebut sepenuhnya diserahkan kepada Zat Yang Maha Kuasa.
Ayat ini mengajarkan bahwa keimanan sejati diuji ketika kita berada di bawah tekanan. Mengingat pertolongan masa lalu (syukur) memupuk harapan untuk masa depan, sementara taqwa memastikan kita berada di jalan yang benar, dan tawakal membebaskan hati dari kecemasan berlebihan terhadap hasil akhir. Al-Maidah ayat 11 adalah kapsul energi spiritual yang mengingatkan umat Islam bahwa meskipun badai mengancam, Pelindung mereka tidak pernah tidur.