Surah Al Hijr Ayat 25

Penjelasan Lengkap Mengenai Ayat Pembagian dan Penghakiman

Ilustrasi Keadilan dan Penimbangan Representasi visual tentang keseimbangan dan pembagian yang adil. Haq Batil

Teks Arab Surah Al Hijr Ayat 25

وَهُمْ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ

Transliterasi

Wa hum 'alaa maa yaf'aloona bil mu'mineena shuhood.

Terjemahan Bahasa Indonesia

"Dan mereka (orang-orang kafir) itu menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang mukmin."

Tafsir dan Konteks Ayat

Surah Al Hijr adalah surat ke-15 dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 99 ayat. Ayat 25 ini terletak di tengah-tengah pembahasan mengenai peringatan keras Allah kepada kaum musyrikin Mekah yang menolak ajaran tauhid, serta sindiran terhadap kesombongan mereka yang menganggap remeh kaum mukminin yang lemah secara materi pada saat itu.

Secara umum, ayat ini mengandung makna penting mengenai pengawasan ilahi dan konsekuensi perbuatan di dunia maupun akhirat. Frasa kunci dalam ayat ini adalah "syuhood" (سُهُودٌ), yang berarti menyaksikan atau hadir sebagai saksi.

Makna Kesaksian

Menurut sebagian besar mufassir, kesaksian yang dimaksud dalam ayat ini memiliki beberapa lapisan makna:

  1. Kesaksian di Dunia: Orang-orang kafir tersebut, yang pada dasarnya menentang dan menganiaya kaum mukminin, secara sadar menyaksikan penderitaan dan keteguhan iman yang ditunjukkan oleh orang-orang beriman. Mereka hadir saat kaum mukminin disiksa, diejek, atau dicemooh. Penganiayaan ini menjadi 'bukti' atas kezaliman mereka sendiri.
  2. Kesaksian di Akhirat: Ayat ini juga merupakan ancaman bahwa perbuatan mereka tidak akan luput dari catatan. Di hari kiamat, Allah akan menghadirkan semua perbuatan tersebut, dan mereka sendiri yang akan menjadi saksi atas kejahatan mereka terhadap hamba-hamba Allah yang saleh. Mereka tidak bisa menyangkalnya karena mereka sendiri yang melakukannya dan menyaksikannya di dunia.
  3. Pengakuan terhadap Kebenaran (Implisit): Meskipun mereka menolak secara lisan, tindakan mereka yang fokus dan menghabiskan energi untuk menganiaya orang beriman secara tidak langsung membuktikan bahwa mereka melihat ada sesuatu yang signifikan pada iman kaum mukminin tersebut—sesuatu yang membuat mereka merasa terancam atau perlu dihancurkan.

Konteks Hubungan dengan Ayat Sebelumnya dan Sesudahnya

Ayat 25 ini erat kaitannya dengan ayat-ayat sebelumnya yang membahas tentang penciptaan manusia dari tanah liat dan penolakan Iblis untuk sujud. Setelah Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud (yang kemudian dilanjutkan dengan kisah Nabi Adam), konteks ayat ini kembali menyoroti musuh sejati yang terus berlanjut hingga era Nabi Muhammad SAW, yaitu kaum yang menolak kebenaran dan menganiaya para penganutnya.

Ayat ini memberikan ketenangan bagi orang-orang beriman. Meskipun pada saat itu mereka mungkin lemah dan teraniaya, Allah menegaskan bahwa penderitaan mereka disaksikan, dan bahwa para pelaku kezaliman akan dimintai pertanggungjawaban penuh. Ini menegaskan prinsip dasar keadilan ilahi: setiap tindakan, sekecil apa pun, dicatat dan akan dibalas setimpal, baik itu pahala atau siksaan.

🏠 Homepage