Ilustrasi: Perintah Allah kepada Iblis untuk bersujud kepada Adam.
قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ
Allah berfirman, "Hai Iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada apa yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu termasuk orang-orang yang meninggikan diri?"
Ayat 32 dari Surah Al-Hijr ini merupakan kelanjutan dari dialog kritis antara Allah SWT dengan Iblis setelah penciptaan Nabi Adam AS. Ayat ini menyoroti momen penolakan Iblis terhadap perintah langsung dari Sang Pencipta. Perintah tersebut adalah agar Iblis bersujud (memberi penghormatan) kepada Adam, manusia pertama yang diciptakan Allah.
Penggunaan frasa "Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku" (بِيَدَيَّ) dalam ayat ini memiliki penekanan yang sangat kuat. Dalam konteks ketuhanan, ini bukan berarti Allah memiliki tangan fisik seperti makhluk ciptaan-Nya. Sebaliknya, ungkapan ini adalah *ta'zim* (pengagungan) terhadap kehormatan penciptaan Adam. Penciptaan Adam adalah sebuah keistimewaan yang memerlukan sentuhan dan perhatian ilahi secara langsung, berbeda dengan penciptaan makhluk lain yang terjadi melalui firman "Jadilah, maka jadilah ia." Keistimewaan ini menegaskan status mulia Adam sebagai khalifah di bumi.
Pertanyaan retoris Allah kepada Iblis—"Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu termasuk orang-orang yang meninggikan diri?"—mengungkapkan akar masalah penolakan tersebut. Allah tidak bertanya mengapa Iblis tidak bersujud, melainkan menanyakan motif di baliknya: kesombongan (*istikbar*) atau keangkuhan (*uluww*). Iblis mengakui kesombongannya (sebagaimana disebutkan dalam ayat sebelumnya, Al-Hijr ayat 31), namun pertanyaan ini bertujuan untuk memaksanya mengakui kesalahannya.
Iblis, yang diciptakan dari api, merasa lebih unggul daripada Adam yang diciptakan dari tanah. Perasaan superioritas ini menjadi racun yang merusak iman dan ketaatannya. Ayat ini menjadi pelajaran abadi bahwa kesombongan terhadap perintah Allah adalah dosa terbesar, bahkan lebih besar daripada keengganan itu sendiri, karena kesombongan menafikan otoritas mutlak Sang Pencipta.
Surah Al-Hijr ayat 32 mengajarkan beberapa prinsip fundamental dalam kehidupan spiritual seorang Muslim. Pertama, pengakuan terhadap keistimewaan ciptaan Allah dan penghargaan terhadap kehormatan yang diberikan-Nya. Kedua, peringatan keras terhadap sifat kesombongan. Kesombongan adalah penghalang utama antara seorang hamba dengan rahmat dan ketaatan. Rasulullah SAW bersabda bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.
Ayat ini menegaskan bahwa ketaatan sejati tidak bersyarat pada asal-usul atau materi penciptaan seseorang, melainkan semata-mata didasarkan pada kepatuhan kepada perintah Allah. Ketika Allah memerintahkan sesuatu, tugas seorang mukmin adalah mendengar dan taat, tanpa menimbang keunggulan diri sendiri atas objek perintah tersebut. Sikap merendah (tawadhu) adalah lawan langsung dari kesombongan yang menyebabkan Iblis terkutuk selamanya. Dengan memahami kedalaman makna ayat ini, seorang Muslim diingatkan untuk terus menjaga hati dari penyakit hati yang paling berbahaya: merasa lebih baik dari orang lain.