Surah Al-Hijr, yang berarti 'Batu Karang', adalah surah ke-15 dalam Al-Qur'an. Surah ini sarat dengan kisah-kisah peringatan bagi orang-orang yang mengingkari kebenaran, termasuk kisah kaum Nabi Luth dan kisah penolakan Iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam. Di tengah penekanan akan keagungan Allah dan konsekuensi dari pembangkangan, terdapat ayat-ayat yang memberikan peneguhan dan harapan bagi hamba-Nya yang beriman, terutama melalui sebuah doa yang sangat kuat dan penting.
Ayat 39 dan 40 dari Surah Al-Hijr ini muncul sebagai respons langsung terhadap permohonan Nabi Ibrahim dalam menghadapi takdir atau situasi sulit, namun ayat ini juga menjadi amalan umum bagi seluruh umat Muslim yang memohon perlindungan dan bimbingan dari segala kejahatan dan godaan. Ayat ini adalah pengakuan total atas kekuasaan Allah dan penyerahan diri sepenuhnya kepada-Nya.
(Allah) berfirman: "Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari kaum yang berbuat kerusakan."
Maka Kami selamatkan dia dan seluruh keluarganya, kecuali seorang perempuan tua (yang termasuk kaumnya) yang dia tetapkan (sebagai orang yang tertinggal).
Ayat 39 merupakan sebuah doa yang memohon pembebasan total dari lingkungan atau perbuatan yang merusak dan menyimpang dari jalan Allah. Ketika diucapkan, doa ini mengandung pengakuan bahwa lingkungan sekitar (baik secara fisik maupun spiritual) dapat menjadi sumber bahaya bagi keimanan seseorang. Memohon kepada Allah untuk dijauhkan dari "kaum yang berbuat kerusakan" adalah bentuk upaya preventif seorang Mukmin agar konsisten berada di jalan kebenaran.
Allah SWT, melalui firman-Nya pada ayat 40, segera memberikan jaminan atas doa tersebut. Janji pertolongan ini ditegaskan dengan kata "Maka Kami selamatkan dia dan seluruh keluarganya, kecuali..." Ini menunjukkan bahwa kepasrahan yang tulus disertai dengan permohonan yang benar, pasti akan mendapatkan respons ilahi. Kunci dari ayat ini terletak pada konsistensi dalam iman dan upaya untuk menjauhi keburukan.
Di tengah arus informasi dan tantangan zaman yang serba cepat, ayat ini memiliki relevansi yang sangat besar. Kerusakan yang dimaksud tidak hanya sebatas kerusakan fisik atau kejahatan sosial, tetapi juga kerusakan moral, ideologi yang menyesatkan, dan godaan syahwat duniawi. Umat Islam diajarkan untuk senantiasa menyadari bahwa mereka hidup di tengah masyarakat yang beragam, di mana tidak semua pandangan atau perilaku sejalan dengan syariat.
Oleh karena itu, mengamalkan doa ini—setelah upaya nyata untuk menjauhi maksiat—menjadi benteng spiritual. Ini adalah cara untuk membersihkan jiwa dan lingkungan terdekat dari pengaruh negatif. Ayat ini mengingatkan kita bahwa keselamatan sejati datangnya bukan dari kekuatan manusia atau benteng fisik, melainkan dari perlindungan langsung Sang Pencipta. Kita memohon agar Allah melindungi keluarga kita dari segala bentuk fitnah dan perbuatan yang merusak nilai-nilai agama dan akhlak.
Kisah pengecualian satu perempuan tua (istri Nabi Luth, dalam konteks kisah Nabi Luth yang sering dirujuk dalam konteks ini) juga memberikan pelajaran penting: perlindungan Allah bersifat mutlak bagi mereka yang benar-benar taat, namun bagi mereka yang memilih tetap bersekutu dengan kerusakan meskipun memiliki ikatan keluarga, perlindungan tersebut tidak berlaku. Ini menekankan bahwa pertanggungjawaban iman bersifat individual. Memohon keselamatan bersama keluarga berarti mendoakan agar seluruh anggota keluarga memiliki keistiqomahan yang sama dalam mengikuti kebenaran. Ayat ini adalah panggilan untuk introspeksi dan penguatan iman secara kolektif dalam rumah tangga.