Surah Al Hijr Ayat 4: Peringatan Tentang Kehancuran Umat Terdahulu
Al-Qur'anul Karim adalah sumber petunjuk dan hikmah bagi seluruh umat manusia. Di dalamnya terkandung kisah-kisah teladan, peringatan keras, serta janji ganjaran bagi mereka yang beriman dan bertakwa. Salah satu ayat yang mengandung peringatan tegas mengenai konsekuensi pendustaan adalah Surah Al Hijr ayat 4.
Ayat ini menjadi penegasan bahwa Allah SWT tidak pernah membiarkan suatu kaum yang mendustakan risalah para Nabi tanpa hukuman. Ia adalah cermin sejarah yang mengingatkan kita bahwa kehancuran suatu peradaban seringkali bermula dari penolakan terhadap kebenaran yang dibawa oleh utusan-utusan-Nya.
Konteks Historis dan Makna Mendalam
Ayat ini diturunkan sebagai penegasan terhadap apa yang telah disabdakan Allah kepada Nabi Muhammad SAW terkait dengan kaum-kaum terdahulu yang telah dibinasakan. Sebelumnya, dalam ayat 1 hingga 3, dijelaskan bahwa kaum musyrikin Makkah akan menghadapi tantangan terhadap ajaran tauhid, dan peringatan keras diberikan bahwa penundaan azab bukanlah berarti pengabaian.
Ayat 4 ini menjelaskan mekanisme Ilahi dalam menghukum. Kehancuran atau pembinasaan suatu kota (qaryah) atau kaum bukanlah tindakan sewenang-wenang, melainkan sebuah ketetapan yang sudah tercatat dan memiliki batas waktu yang spesifik (kitābum ma'lūm). Ini menunjukkan bahwa Allah Maha Adil; tidak ada pembinasaan yang terjadi sebelum waktunya tiba, dan sebaliknya, ketika batas waktu itu tiba, tidak ada jalan untuk menundanya.
Konsep "kitābum ma'lūm" ini sangat penting. Ia menanamkan dua pelajaran utama: Pertama, kepastian akan adanya pertanggungjawaban dan konsekuensi logis dari setiap perbuatan, terutama penolakan terhadap kebenaran. Kedua, adanya batasan dan ketepatan waktu dalam rencana Ilahi. Hal ini seharusnya menenangkan hati Nabi dan orang-orang beriman, karena mereka tahu bahwa janji pertolongan dan ancaman bagi pendurhaka adalah pasti, meskipun mungkin terlihat lambat.
Pelajaran tentang Kesabaran dan Ketetapan Waktu
Bagi umat Islam yang hidup pada masa dakwah awal, ayat ini berfungsi sebagai penenang sekaligus penguat pendirian. Mereka melihat bagaimana kaum-kaum seperti 'Ad, Tsamud, dan kaum Nabi Luth telah dihancurkan karena kesombongan dan pendustaan mereka. Namun, pembinasaan itu tidak terjadi secara tiba-tiba. Selalu ada jeda waktu yang diberikan Allah, kesempatan untuk bertaubat, namun kesempatan itu seringkali disia-siakan hingga mencapai titik di mana catatan waktu mereka telah habis.
Ketetapan waktu ini mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran (sabr) adalah kunci. Ketika kita menghadapi kesulitan atau ketika kejahatan tampak merajalela tanpa hukuman, kita harus ingat bahwa Allah memiliki jadwal yang telah ditetapkan. Tugas kita adalah tetap teguh dalam kebenaran dan terus berdakwah, menyerahkan hasil akhirnya kepada Sang Pencipta.
Oleh karena itu, memahami Surah Al Hijr ayat 4 membawa kita pada pemahaman teologis bahwa di balik setiap peristiwa besar, termasuk kehancuran peradaban, terdapat hikmah, keadilan, dan ketetapan waktu yang sempurna dari Allah SWT. Ini adalah pengingat agar kita tidak merasa aman dari azab-Nya jika kita melampaui batas, dan juga penguat harapan bahwa kebenaran pasti akan menang pada waktu yang telah ditentukan.