Surah Al-Hijr, yang dikenal juga sebagai Surah Al-Hijr, adalah salah satu surat Makkiyah yang kaya akan peringatan dan penguatan bagi Rasulullah SAW serta umatnya. Ayat 43 dan 44 secara spesifik menyoroti konsep pertanggungjawaban akhirat, khususnya mengenai tempat kembalinya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah.
Ayat 43 menegaskan dengan tegas bahwa "Sesungguhnya Jahannam itu adalah tempat yang dijanjikan bagi mereka semuanya." Kata "dijanjikan" (مَوْعِدُهُمْ) di sini bukanlah janji kebaikan, melainkan janji hukuman yang pasti dan tak terhindarkan bagi mereka yang menolak kebenaran. Penegasan ini berfungsi sebagai peringatan keras bahwa konsekuensi dari kekafiran dan pembangkangan bukanlah sesuatu yang bisa ditawar atau ditunda. Ini adalah kepastian ilahi yang harus direnungkan oleh setiap pendengar.
Dalam ayat berikutnya, ayat 44, Allah SWT memberikan gambaran detail mengenai struktur neraka tersebut: "Jahannam itu mempunyai tujuh pintu; bagi setiap pintu (golongan) dari mereka telah ditetapkan bagiannya." Penyebutan "tujuh pintu" (سَبْعَةُ أَبْوَابٍ) seringkali diinterpretasikan oleh para mufassir sebagai tingkatan atau tingkatan siksaan yang berbeda. Setiap pintu melambangkan kategori dosa atau jenis kekafiran yang berbeda, dan setiap golongan manusia yang mendurhakai Allah akan ditempatkan di pintu yang sesuai dengan perbuatan mereka.
Poin penting dari ayat 44 adalah frasa "bagi setiap pintu (golongan) dari mereka telah ditetapkan bagiannya" (لِكُلِّ بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ مَقْسُومٌ). Ini menunjukkan keadilan mutlak dalam sistem penghakiman Allah. Hukuman tidak bersifat sembarangan, melainkan terukur dan proporsional sesuai dengan tingkat kesalahan dan kemaksiatan yang dilakukan selama hidup di dunia. Ini menekankan bahwa setiap individu akan menerima hasil dari apa yang telah mereka usahakan.
Bayangkan sebuah sistem yang sangat terorganisir di mana tidak ada satu pun kesalahan yang luput dari perhitungan. Ayat-ayat ini bukan bertujuan untuk menakut-nakuti semata, melainkan untuk memotivasi manusia agar sadar akan urgensi beriman dan beramal saleh. Dengan mengetahui adanya tempat yang pasti bagi pendurhaka, seorang mukmin didorong untuk lebih giat dalam ketaatan.
Peringatan tentang Jahannam ini harus menjadi pemicu introspeksi. Mengapa Allah perlu menyebutkan jumlah pintu dan pembagiannya? Ini menunjukkan bahwa pertanggungjawaban di akhirat adalah hal yang sangat rinci. Seseorang tidak bisa menyamaratakan perbuatannya dengan orang lain; setiap dosa memiliki konsekuensinya sendiri.
Dalam konteks Surah Al-Hijr secara keseluruhan, ayat 43-44 diletakkan setelah ayat-ayat yang berbicara tentang kesombongan kaum nabi terdahulu dan penolakan mereka terhadap risalah tauhid. Oleh karena itu, ayat ini berfungsi sebagai penutup peringatan: jika kalian memilih jalur penolakan seperti kaum terdahulu, maka tempat yang telah disiapkan untuk kalian adalah Jahannam, dan pembagiannya sudah ditentukan.
Setiap Muslim diharapkan mengambil pelajaran dari ayat ini untuk selalu waspada terhadap perbuatan lisan dan perbuatan anggota badan. Karena janji Allah (baik janji pahala di surga maupun janji siksa di neraka) adalah kebenaran hakiki yang tidak dapat diganggu gugat. Pemahaman yang mendalam tentang ayat ini akan mendorong seorang hamba untuk senantiasa berlindung kepada Allah dari api neraka dan berlomba-lomba meraih rahmat-Nya.