Surah Al-Hijr, surat ke-15 dalam Al-Qur'an, mengandung banyak pelajaran tentang tauhid, mukjizat, dan balasan atas amal perbuatan manusia. Salah satu ayat yang menyoroti rahmat dan kondisi hati adalah ayat ke-47.
Terjemahan: "Dan Kami cabut apa (rasa dendam dan iri hati) yang ada di dalam dada mereka; (mereka menjadi) bersaudara, berhadapan di atas ranjang-ranjang."
Ayat ini adalah bagian dari rangkaian ayat (ayat 45 hingga 48) yang menjelaskan bagaimana Allah akan memperlakukan para penghuni surga (Al-Jannah). Ayat ini secara spesifik berbicara tentang kondisi batiniah dan relasi sosial para penghuni surga.
Fokus utama dari ayat 47 ini adalah penegasan bahwa segala sifat negatif—seperti ghill (غِلّ)—akan sepenuhnya dicabut dari hati para penghuni surga. Dalam terminologi Arab, ghill berarti kebencian yang terpendam, iri hati, dengki, permusuhan, atau sifat negatif lainnya yang seringkali menghancurkan persaudaraan di dunia.
Bayangkan kehidupan dunia yang penuh dengan kompetisi, penilaian, dan kadang-kadang rasa tidak senang melihat kesuksesan orang lain. Bahkan di antara saudara atau teman dekat, "ghill" ini bisa tumbuh tanpa disadari. Namun, surga adalah tempat penyucian total. Ketika seorang mukmin memasuki surga, bukan hanya amal buruknya yang diampuni, tetapi juga cacat-cacat hati yang mungkin masih tersisa akan dihilangkan oleh kebesaran rahmat Allah SWT.
Pencabutan "ghill" ini menghasilkan konsekuensi logis yang indah: mereka menjadi ikhwan (bersaudara). Persaudaraan di sini bukanlah ikatan darah semata, melainkan ikatan spiritual murni yang didasarkan pada kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta ridha terhadap ketetapan-Nya. Tidak ada lagi persaingan perebutan tempat atau pujian.
Status "bersaudara" ini menegaskan bahwa di surga, tidak ada hierarki sosial yang memisahkan, dan tidak ada kecemburuan yang merusak kebahagiaan kolektif. Kebahagiaan satu orang tidak mengurangi kebahagiaan orang lain, karena sumber kebahagiaan utama adalah kedekatan dengan Allah.
Ayat tersebut menutup deskripsinya dengan menggambarkan suasana fisik mereka: "berhadapan di atas ranjang-ranjang" (عَلٰى سُرُرٍ مُّتَقَابِلِيْنَ). Kata surur (ranjang-ranjang) seringkali diartikan sebagai singgasana atau tempat duduk yang sangat mulia dan nyaman.
Konsep mutaqabilin (saling berhadapan) menunjukkan beberapa makna mendalam:
Surah Al-Hijr ayat 47 ini memberikan janji yang luar biasa. Ia menjanjikan bukan hanya kenikmatan materi di akhirat (ranjang, makanan, minuman), tetapi yang lebih berharga adalah kesempurnaan kondisi hati dan relasi interpersonal. Ini mengingatkan kita bahwa pertempuran terbesar saat ini adalah membersihkan hati dari ghill dan iri, karena hasil dari pembersihan duniawi inilah yang akan menentukan kualitas kenikmatan abadi kita.