Al-Qur'an adalah pedoman hidup yang komprehensif bagi umat Islam, menjelaskan berbagai aspek perilaku manusia—baik yang terpuji maupun yang tercela. Salah satu ayat yang menyoroti sisi negatif naluri manusia adalah Surat Al-Isra (atau Al-Isrā') ayat 11. Ayat ini memberikan peringatan keras tentang kecenderungan manusia untuk bersikap meminta hal-hal yang merugikan dirinya sendiri ketika diberikan kemudahan atau kekayaan.
Ayat ini sering dikutip untuk mengingatkan kita bahwa kemudahan yang tampak baik di mata manusia bisa menjadi ujian berat jika digunakan tanpa kebijaksanaan atau rasa syukur. Mari kita telaah lebih dalam konteks dan makna dari firman Allah SWT ini.
Ayat 11 ini berdekatan dengan ayat 10, di mana Allah SWT memperingatkan bahwa ketika orang-orang kafir didoakan keburukan (sebagai balasan atas kekafiran mereka), mereka akan merespons dengan kemarahan dan penolakan. Ayat 11 kemudian menjelaskan akar masalah dari reaksi tersebut: sifat dasar manusia itu sendiri.
Makna inti dari ayat ini adalah bahwa manusia, dalam kepanikan, keserakahan, atau ketidaktahuannya, sering kali memohon kepada Allah untuk hal-hal yang pada hakikatnya adalah bencana atau keburukan, sama mudahnya seperti ia memohon rahmat atau kebaikan. Sifat "terburu-buru" (عَجُولًا - 'ajūlā) di sini menjadi kunci utama. Karena terburu-buru, manusia gagal melihat konsekuensi jangka panjang dari permintaannya.
Bagaimana manusia bisa meminta keburukan? Hal ini bisa terjadi dalam beberapa bentuk:
Kata "terburu-buru" merangkum kegagalan manusia dalam mengambil perspektif ilahi. Dalam pandangan Allah, segala sesuatu memiliki waktu dan hikmahnya. Namun, manusia yang memiliki rentang waktu terbatas cenderung ingin semua keinginannya dipenuhi saat itu juga. Ketidaksabaran ini mencegah mereka untuk merenung apakah apa yang mereka minta benar-benar baik untuk masa depan mereka di dunia maupun akhirat.
Ayat ini berfungsi sebagai koreksi diri kolektif. Ia mengajak setiap individu untuk meninjau ulang doa-doa mereka, memastikan bahwa apa yang diminta benar-benar mengandung kebaikan hakiki, bukan sekadar kepuasan sesaat yang didorong oleh hawa nafsu atau emosi sesaat. Kita diperintahkan untuk selalu memohon perlindungan dari keburukan, dan senantiasa memohon ketenangan serta kesabaran.
Surat Al-Isra ayat 11 mengajarkan pentingnya kesadaran spiritual saat berdoa. Doa seharusnya didasarkan pada pengetahuan tentang apa yang baik dan apa yang buruk menurut standar Ilahi, bukan standar ego manusia. Mengakui bahwa kita cenderung terburu-buru adalah langkah pertama menuju perbaikan. Dengan menyadari kecenderungan ini, seorang mukmin akan lebih berhati-hati dalam mengucapkan permohonan, selalu menyertakan kalimat seperti "jika itu baik bagiku" atau "semoga Engkau jauhkan dariku keburukan yang aku minta karena ketidaktahuanku."
Ayat ini menggarisbawahi bahwa Allah Maha Tahu apa yang terbaik, bahkan ketika kita sendiri memohon hal yang merusak. Oleh karena itu, ketenangan dan penyerahan diri (tawakkal) adalah penawar alami bagi sifat terburu-buru yang sering mendorong kita pada permohonan yang salah arah.