Menggali Hikmah: Surah Al-Hijr Ayat 66

Ilustrasi Kehancuran dan Peringatan Gambar sederhana yang melambangkan kehancuran rumah karena perbuatan buruk, dengan latar belakang matahari terbenam.

Al-Qur'an adalah petunjuk komprehensif bagi umat manusia, memuat kisah-kisah masa lalu sebagai pelajaran berharga untuk masa kini dan masa depan. Salah satu ayat yang mengandung peringatan tegas mengenai akibat dari perbuatan kaum terdahulu adalah Surah Al-Hijr ayat 66. Ayat ini menjadi cerminan nyata tentang konsekuensi dari keingkaran dan penolakan terhadap risalah kenabian.

"Dan Kami wahyukan kepadanya (Nuh): 'Sesungguhnya kaummu akan dihancurkan sehancur-hancurnya, dan mereka akan dibinasakan dengan suatu kebinasaan yang tidak dapat dielakkan'."

(QS. Al-Hijr: 66)

Konteks Historis Ayat

Ayat 66 dari Surah Al-Hijr ini berada dalam rangkaian ayat-ayat yang menceritakan dialog antara Nabi Syuaib dengan kaumnya, namun dalam riwayat tafsir yang lebih luas, ayat ini seringkali dikaitkan dengan kisah Nabi Nuh AS. Ayat ini berfungsi sebagai penekanan atas keputusan ilahi yang telah ditetapkan terhadap suatu kaum yang telah melampaui batas dalam kedurhakaan mereka.

Nabi Nuh AS telah berdakwah selama ratusan tahun mengajak kaumnya untuk menyembah Allah SWT dan meninggalkan berhala. Namun, mayoritas kaumnya menolak, bahkan mencemooh dakwahnya, dan bersikeras berada dalam kesesatan. Ketika kesabaran Allah SWT telah habis dan teguran demi teguran diabaikan, maka turunlah firman Allah yang mengabarkan kepastian azab dan kehancuran total.

Peringatan Kehancuran Total

Frasa kunci dalam ayat ini adalah "dihancurkan sehancur-hancurnya" dan "kebinasasaan yang tidak dapat dielakkan". Hal ini menunjukkan bahwa azab yang ditimpakan bukanlah sekadar teguran ringan, melainkan pemusnahan total yang menandakan berakhirnya kesempatan taubat bagi kaum tersebut. Kata 'dihancurkan' (yuhlakūna) dan 'dibinasakan' (mu'bidūn) menekankan kepastian dan keseriusan vonis tersebut.

Pesan utama yang dapat diambil adalah bahwa kesombongan dan penolakan terang-terangan terhadap ajaran kebenaran akan selalu berujung pada konsekuensi serius. Allah SWT selalu memberikan jeda dan kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar, namun ketika batas kesabaran terlampaui, janji azab-Nya pasti akan ditepati.

Pelajaran Bagi Umat Nabi Muhammad SAW

Meskipun ayat ini berbicara tentang kaum terdahulu, konteksnya dalam Al-Qur'an adalah sebagai peringatan bagi umat Nabi Muhammad SAW. Al-Hijr ayat 66 mengingatkan bahwa kemajuan material atau jumlah yang banyak tidak akan menyelamatkan suatu kaum dari kehancuran jika fondasi moral dan spiritual mereka telah rapuh akibat maksiat dan penolakan terhadap tauhid.

Kehancuran yang digambarkan dalam ayat ini harus menjadi cermin bagi setiap generasi. Ketika masyarakat mulai menganggap remeh perintah agama, menentang kebenaran yang jelas, dan tenggelam dalam kemaksiatan tanpa rasa takut, mereka berada di ambang kehancuran yang sama, meskipun bentuk azabnya mungkin berbeda (bisa berupa kehancuran sosial, moral, atau azab akhirat).

Oleh karena itu, ayat ini menekankan pentingnya istiqamah (keteguhan) dalam iman, keseriusan dalam berdakwah, dan kesadaran bahwa setiap perbuatan memiliki pertanggungjawaban ilahi yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun, sekuat apapun kekuasaan atau jumlah mereka di dunia. Janji Allah itu pasti, baik janji rahmat maupun janji adzab bagi mereka yang melampaui batas.

🏠 Homepage