Surah Al-Hijr adalah surah ke-15 dalam urutan mushaf, yang diturunkan di Mekkah. Surah ini kaya akan kisah-kisah para nabi, peringatan tentang kekuasaan Allah, dan pentingnya bersyukur. Bagian akhir surah, khususnya ayat 71 hingga 90, berisi dialog penting antara Allah dengan para malaikat mengenai penciptaan Adam, serta penekanan kuat pada perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk bersabar, bertawakal, dan melaksanakan ibadah dengan penuh ketenangan.
Ayat-ayat ini berfungsi sebagai penguatan spiritual bagi Nabi dan umatnya yang saat itu menghadapi penolakan keras dari kaum musyrikin Quraisy. Fokus utama pada bagian akhir ini adalah pada penegasan wahyu, janji pertolongan, dan perintah untuk beribadah hingga ajal tiba.
Bagian awal dari rentang ayat ini dimulai dengan dialog ilahi yang menekankan betapa pentingnya menjaga nilai-nilai spiritual di tengah tekanan duniawi. Allah berfirman kepada Nabi-Nya tentang penawaran yang mungkin diajukan oleh kaum musyrikin.
Ayat ini adalah pengokohan prinsip tauhid dan kenabian. Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk tidak pernah berkompromi dengan kebenaran wahyu demi menyenangkan siapa pun, bahkan untuk menghindari ancaman atau untuk mendapatkan pengikut sementara. Tugas beliau adalah menyampaikan seluruh risalah tanpa mengurangi, menambah, atau menyembunyikannya. Rasa takut kepada Allah (khauf) menjadi motivasi utama, bukan rasa takut kepada manusia.
Dilanjutkan dengan penegasan bahwa mereka (orang-orang kafir) telah mengetahui kisah-kisah umat terdahulu yang dihancurkan karena penolakan mereka terhadap kebenaran. Hal ini memperkuat argumen bahwa siksaaan Allah adalah nyata dan pasti bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat-Nya.
Selanjutnya, Allah mengingatkan kembali tentang kaum Tsamud (kaum Nabi Shalih) yang mendustakan rasul, kemudian beralih ke kisah kaum Nabi Luth. Kisah kaum Luth diangkat sebagai contoh nyata bagaimana perbuatan maksiat yang melanggar fitrah akan berakhir dengan kehancuran yang spesifik dan jelas.
Penduduk Al-Hijr (yang diyakini adalah kaum Tsamud) juga telah menerima ayat-ayat yang dibawa oleh para utusan Allah. Namun, mereka memilih untuk menolak. Allah menekankan bahwa nikmat dan bukti telah diberikan, namun kesombongan menghalangi mereka menerima kebenaran. Ayat-ayat ini menunjukkan pola umum dalam sejarah dakwah: kerasulan yang datang dengan bukti, dan penolakan yang berujung pada pembalasan.
Memasuki bagian penutup, fokus beralih pada prinsip fundamental keimanan: penetapan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan tujuan yang jelas (bil haq), dan pengingat bahwa waktu kedatangan hari kiamat hanyalah rahasia Ilahi yang tidak diketahui oleh siapa pun selain Dia.
Ayat 85 adalah inti dari ketenangan spiritual. Karena segala sesuatu diciptakan berdasarkan kebenaran dan Kiamat pasti datang, maka reaksi yang paling tepat adalah ash-shafh al-jamīl (memaafkan dengan indah). Ini bukan berarti pasif terhadap kezaliman, melainkan memilih untuk tidak membalas dengan cara yang sama atau menanggapi ejekan dengan kegaduhan, karena pengendalian atas waktu dan balasan akhir adalah milik Allah.
Ayat-ayat terakhir menegaskan kedudukan Tuhan Yang Maha Pencipta, Pemelihara, dan Pemberi Rezeki. Allah adalah Al-Khaliq (Pencipta) dan Al-Fattah (Pembuka/Pemberi Keputusan). Perintah terakhir kepada Nabi adalah untuk terus beribadah, bersaksi atas keesaan Allah, dan menikmati anugerah Al-Qur'an sebagai penyejuk hati.
Secara keseluruhan, Surah Al-Hijr ayat 71 hingga 90 berfungsi sebagai peta jalan bagi seorang mukmin dalam menghadapi tantangan dakwah: pegang teguh wahyu, jangan gentar pada penolakan, ambil pelajaran dari umat terdahulu, dan serahkan segala sesuatu kepada ketetapan waktu Allah sambil terus beramal baik dengan penuh kesabaran.