Surah Al-Hijr, yang namanya diambil dari nama sebuah lembah di mana kaum Nabi Saleh (Tsaminud) pernah tinggal, mengandung banyak pelajaran berharga mengenai tauhid, keagungan ciptaan Allah, serta kisah-kisah kaum terdahulu. Di antara ayat-ayatnya yang sarat makna, terdapat Surah Al-Hijr ayat 71 yang menyoroti pentingnya kejujuran dalam menghadapi tantangan, khususnya yang berkaitan dengan amanah dan kepercayaan.
قَالَ هَؤُلاَءِ بَنَاتِي إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ
"Inilah putri-putriku, jika kamu benar-benar hendak melakukan (keinginanmu itu)."
Ayat ini merupakan bagian dari dialog krusial antara Nabi Luth Alaihis Salam dan kaumnya yang durhaka. Ketika para utusan (malaikat dalam wujud laki-laki yang tampan) datang kepada Nabi Luth untuk meminta perlindungan di kota Sodom, kaumnya segera mendatangi rumah Nabi Luth dengan niat buruk yang sangat keji, yaitu melakukan perbuatan keji (homoseksual) yang belum pernah dilakukan oleh umat sebelumnya.
Nabi Luth merasa sangat tertekan dan khawatir akan keselamatan para tamunya yang sejatinya adalah utusan Allah. Dalam situasi yang genting tersebut, sebagai upaya terakhir untuk melindungi amanah yang dititipkan kepadanya (para tamu), Nabi Luth mengucapkan Surah Al-Hijr ayat 71: "Inilah putri-putriku, jika kamu benar-benar hendak melakukan (keinginanmu itu)."
Para mufassir menjelaskan bahwa ungkapan "putri-putriku" di sini memiliki dua makna utama yang saling berkaitan, keduanya bertujuan sebagai pelindung moral dan syariat:
Penting untuk dicatat bahwa konteks Surah Al-Hijr ayat 71 berbeda dengan konteks saat Nabi Luth diperintahkan menikahkan putri-putrinya (yang sebenarnya) kepada laki-laki. Dalam ayat ini, ia berbicara dalam konteks melindungi tamu dari gangguan kaumnya yang sudah melampaui batas kemanusiaan.
Surah Al-Hijr ayat 71 mengajarkan kita tentang tanggung jawab besar seorang pemimpin (termasuk pemimpin rumah tangga atau figur yang dipercaya) untuk menjaga amanah. Ketika Nabi Luth menerima tamu, itu adalah sebuah amanah yang harus ia pertahankan, bahkan ketika nyawanya terancam.
Ayat ini menekankan bahwa ketika seseorang dihadapkan pada pilihan antara menyelamatkan diri sendiri dengan berbuat salah, atau mempertahankan prinsip dan melindungi orang lain dengan cara yang paling bijaksana, maka pilihan kedua adalah jalan kenabian. Nabi Luth menggunakan kata-kata yang paling kuat dan lugas untuk menegur penyimpangan kaumnya. Tindakan tersebut menunjukkan keberanian moral yang tinggi.
Tantangan yang dihadapi Nabi Luth adalah ujian ekstrem. Bagaimana ia mampu mempertahankan integritasnya di tengah tekanan massa yang ingin melakukan kejahatan? Jawabannya terletak pada keyakinan penuh bahwa pertolongan Allah akan datang, dan tugasnya hanyalah berpegang teguh pada dakwah dan perlindungan terhadap kebenaran, meskipun harus menggunakan kata-kata yang mengejutkan.
Setelah Nabi Luth mengucapkan kalimat tersebut dan kaumnya tetap mendesak, Allah SWT mengirimkan azab yang pedih. Kaum Nabi Luth yang enggan menerima petunjuk dan terus menerus meremehkan peringatan moral dan spiritual, akhirnya diazab dengan kehancuran total. Hal ini menegaskan bahwa penolakan terhadap seruan kebenaran dan pengabaian batas-batas syariat akan selalu berujung pada konsekuensi yang berat, sebagaimana tersirat dari kesiapan Nabi Luth untuk menghadapi ancaman demi membela tamu dan kebenaran ilahi.
Kisah ini menjadi cerminan abadi bahwa kejujuran dalam memegang amanah, serta keberanian dalam menegakkan moralitas, adalah fondasi utama keberhasilan seorang Muslim dalam menghadapi ujian kehidupan, seberat apapun ujian itu.