Memahami Surah Al-Hijr Ayat 75

Ilustrasi Keadilan dan Kesabaran Kesabaran

Teks Surah Al-Hijr Ayat 75

وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ ۖ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ ۚ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ ۗ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Terjemahan Ayat

"Dan Aku tidak mempunyai kekuasaan atas kamu melainkan (kekuasaan untuk menyeru), lalu kamu mematuhi seruanku. Maka janganlah kamu mencela Aku, tetapi celalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku mengingkari perbuatanmu mempersekutukan Aku yang kamu lakukan dahulu." Sesungguhnya orang-orang yang zalim (salah) itu akan memperoleh azab yang pedih.

Konteks dan Kedalaman Makna Al-Hijr Ayat 75

Surah Al-Hijr, yang diberi nama berdasarkan nama sebuah lembah di Syam (sekarang bagian dari Yordania) yang dihuni kaum Tsamud, berbicara secara ekstensif mengenai kisah-kisah para nabi terdahulu, keagungan penciptaan Allah SWT, serta ancaman bagi mereka yang mendustakan risalah kenabian. Surah Al-Hijr ayat 75 merupakan salah satu ayat penutup yang sangat tegas, menggambarkan dialog pada Hari Kiamat antara para penyembah berhala (musyrikin) dan pemimpin atau sesembahan yang mereka ikuti di dunia.

Ayat ini menegaskan prinsip dasar pertanggungjawaban individual di hadapan Allah SWT. Ketika para penyembah berhala, yang dulunya menyembah selain Allah, berkumpul di akhirat dan mencari pembelaan dari "sesembahan" mereka (baik itu patung, jin, atau pemimpin yang mereka taati), sesembahan tersebut akan membantah klaim mereka. Penegasan utama dalam ayat ini adalah bahwa seruan yang diberikan oleh para rasul (seperti Nabi Ibrahim AS, yang konteksnya sering dikaitkan dengan ayat-ayat sebelumnya) adalah murni ajakan, bukan pemaksaan kekuasaan fisik.

Penolakan Kekuasaan dan Pemindahan Tanggung Jawab

Frasa "Dan Aku tidak mempunyai kekuasaan atas kamu melainkan (kekuasaan untuk menyeru)" menunjukkan bahwa otoritas yang dimiliki para nabi atau pemimpin spiritual di dunia hanyalah menyampaikan wahyu. Mereka tidak memiliki kemampuan untuk memaksa hati seseorang menerima kebenaran. Keputusan untuk mengikuti atau menolak sepenuhnya berada di tangan individu itu sendiri. Ketika orang-orang yang tersesat mencoba menyalahkan pemimpin kesesatan mereka di Hari Pembalasan, sesembahan itu akan menjawab dengan penolakan tegas.

Pesan selanjutnya, "Maka janganlah kamu mencela Aku, tetapi celalah dirimu sendiri," adalah pukulan telak bagi mereka yang mencari kambing hitam. Di sana, tidak ada ruang untuk menyalahkan pihak lain atas kesesatan yang dipilih secara sadar. Mereka hanya bisa menyesali pilihan mereka sendiri. Ini menekankan konsep kehendak bebas manusia dalam Islam.

Kemandirian di Akhirat

Ayat ini melanjutkan dengan penegasan universal tentang ketidakmampuan saling menolong di Hari Kiamat: "Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku." Ini adalah realitas yang menaungi semua jenis pertolongan duniawi; di hadapan keadilan Ilahi, ikatan duniawi terputus total. Setiap jiwa bertanggung jawab penuh atas catatan amalnya. Ayat ini menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang menggantungkan harapan pertolongan di akhirat pada makhluk, bukan kepada Allah SWT.

Penyucian Diri dari Syirik

Bagian penutup ayat ini sering ditujukan kepada Nabi Ibrahim AS dalam konteks dialognya dengan kaumnya, meskipun maknanya berlaku universal untuk semua penyeru kebenaran. Kalimat "Sesungguhnya aku mengingkari perbuatanmu mempersekutukan Aku yang kamu lakukan dahulu" adalah pernyataan pemutusan total dari praktik syirik. Para nabi dan orang-orang saleh akan membersihkan diri mereka dari segala bentuk kemusyrikan yang pernah dilakukan oleh pengikut mereka yang telah sesat.

Pernyataan ini menegaskan bahwa klaim keimanan seseorang tidak valid jika ia masih mempraktikkan syirik. Tindakan mengingkari syirik ini merupakan bentuk pembelaan terhadap kemurnian tauhid. Peringatan terakhir dalam Surah Al-Hijr ayat 75 adalah ancaman serius: "Sesungguhnya orang-orang yang zalim (salah) itu akan memperoleh azab yang pedih." Zalim di sini merujuk pada mereka yang menempatkan sesuatu (atau seseorang) setara dengan Allah SWT, yaitu melakukan syirik. Bagi mereka, azab yang disiapkan adalah yang paling berat. Ayat ini berfungsi sebagai penutup kisah-kisah peringatan dengan penekanan kuat pada konsekuensi logis dari pilihan akidah yang salah.

🏠 Homepage