Tafsir dan Keindahan Surah Al-Hijr Ayat 80

Ilustrasi Gunung dan Cahaya Ilahi وَلَقَدْ

Surah Al-Hijr, surat ke-15 dalam Al-Qur'an, menyimpan banyak pelajaran berharga mengenai tauhid, kisah para nabi, dan peringatan bagi umat manusia. Di antara ayat-ayatnya yang sarat makna, terdapat Surah Al-Hijr ayat 80, yang berbicara tentang kaum Tsamud dan kenabian Nabi Shaleh AS.

Ayat ini merupakan penegasan keras dari Allah SWT kepada kaum Tsamud yang telah mendustakan rasul mereka. Ayat ini berbunyi:

وَلَقَدْ كَذَّبَ أَصْحَابُ الْحِجْرِ الْمُرْسَلِينَ
"Dan sesungguhnya telah didustakan rasul-rasul." (QS. Al-Hijr: 80)

Siapakah Ashab Al-Hijr?

Secara harfiah, "Ashab Al-Hijr" berarti "Penduduk Al-Hijr." Al-Hijr merujuk pada suatu wilayah geografis di masa lalu, yang diyakini berada di daerah antara Hijaz dan Syam (Syria). Kaum yang mendiami daerah ini dikenal sebagai kaum Tsamud. Mereka adalah masyarakat yang diberkahi dengan kekayaan alam yang luar biasa dan keahlian arsitektur yang sangat maju, mampu memahat rumah-rumah mereka langsung dari gunung batu (sebagaimana tersirat dari kata 'Hijr' yang berarti batu atau karang).

Meskipun memiliki kemajuan peradaban dan kemampuan fisik yang kuat—mereka adalah kaum yang terkenal tangguh—namun kesombongan dan kekufuran menutupi hati mereka. Mereka mendustakan ajaran yang dibawa oleh Nabi Shaleh AS, padahal Nabi Shaleh telah menunjukkan mukjizat berupa unta betina yang keluar dari batu, sebagai bukti kebenaran risalahnya.

Pendustaan Para Rasul

Fokus utama dari ayat 80 ini adalah penekanan pada tindakan pendustaan. Ayat ini menggunakan kata kerja lampau yang tegas: 'Kadzdzaba' (telah mendustakan). Hal ini menunjukkan bahwa kekufuran kaum Tsamud bukanlah tindakan sesaat, melainkan sebuah rangkaian penolakan sistematis terhadap kebenaran yang diwahyukan.

Penting untuk dicatat bahwa meskipun ayat ini secara spesifik merujuk pada pendustaan Nabi Shaleh oleh kaum Tsamud, konteks ayat-ayat sebelumnya (Ayat 77 dan 78) menunjukkan bahwa penolakan tersebut tidak hanya ditujukan kepada Nabi Shaleh, tetapi juga kepada utusan-utusan lain yang diutus sebelum beliau di wilayah tersebut. Dalam banyak narasi kenabian, ketika satu kaum menolak satu rasul, seringkali mereka juga menolak rasul-rasul lain yang telah diutus sebelumnya kepada umat yang berbeda. Ayat ini menggeneralisir perbuatan mereka sebagai bentuk penolakan terhadap seluruh rantai kenabian.

Pelajaran Moral dari Kisah Tsamud

Kisah kaum Tsamud melalui Surah Al-Hijr ayat 80 memberikan beberapa pelajaran fundamental bagi umat Islam saat ini. Pertama, kemajuan teknologi atau kekayaan materi tidak menjamin keimanan atau keselamatan. Kaum Tsamud adalah contoh nyata bahwa kecanggihan dalam membangun kota dari batu tidak dapat melindungi mereka dari azab ilahi ketika mereka memilih untuk membangkang terhadap perintah Allah.

Kedua, ayat ini mengingatkan tentang bahaya kesombongan intelektual dan spiritual. Mereka merasa diri mereka superior karena kemampuan mereka memahat gunung, sehingga mereka meremehkan pesan sederhana tentang keesaan Allah yang dibawa oleh seorang Nabi. Kesombongan inilah yang menjadi penghalang utama mereka untuk menerima kebenaran.

Ketiga, konsistensi dalam mendustakan utusan Allah adalah dosa besar. Allah SWT tidak hanya menghukum kaum yang menolak dakwah, tetapi juga menegaskan bahwa penolakan tersebut adalah sebuah pola perilaku yang telah terjadi berulang kali dalam sejarah. Setiap generasi yang menolak rasulnya akan menghadapi konsekuensi setimpal.

Keseluruhan Surah Al-Hijr, termasuk ayat 80, berfungsi sebagai peringatan bahwa nikmat-nikmat yang diberikan—seperti kemampuan memahat batu (kekuatan) atau kekayaan alam (rezeki)—seharusnya disyukuri dengan ketaatan, bukan dijadikan alasan untuk mendustakan pesan-pesan langit. Kisah mereka menjadi pelajaran abadi tentang konsekuensi dari pengabaian terhadap peringatan ilahi.

🏠 Homepage