Kebenaran Hikmah Keseimbangan Ketetapan Ilahi

Ilustrasi: Keseimbangan Penciptaan dan Hikmah.

Kajian Mendalam Surah Al-Hijr Ayat 8

وَمَا خَلَقْنَاهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَمَا كَانَتْ إِذًا مُنظَرِينَ
"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar (haqq). Dan sungguh, saat itu (kiamat) pasti akan datang."

Konteks Ayat dan Penjelasan

Surah Al-Hijr, yang merupakan surah ke-15 dalam Al-Qur'an, kaya akan pembahasan mengenai keesaan Allah, peringatan tentang kaum terdahulu, dan kepastian hari kiamat. Ayat kedelapan ini, Surah Al-Hijr ayat 8, merupakan penegasan fundamental dari Allah SWT mengenai hakikat penciptaan alam semesta. Ayat ini menegaskan bahwa keberadaan langit, bumi, dan segala isinya bukanlah sebuah kebetulan atau permainan tanpa tujuan.

Frasa kunci dalam ayat ini adalah "إِلَّا بِالْحَقِّ" (illā bil-haqq), yang diterjemahkan sebagai "melainkan dengan tujuan yang benar" atau "kebenaran." Kata 'Al-Haqq' (Kebenaran) di sini mengandung makna yang sangat luas dan mendalam. Ini mencakup beberapa aspek penting. Pertama, penciptaan ini dilakukan dengan tujuan yang adil, teratur, dan sesuai dengan hikmah dan ilmu Allah yang sempurna. Kedua, seluruh tata cara alam semesta diatur oleh hukum-hukum yang pasti dan tidak ada yang sia-sia. Tidak ada satu pun atom atau bintang yang diciptakan tanpa peran spesifik dalam skema besar.

Signifikansi "Al-Haqq" dalam Penciptaan

Ketika Allah menyatakan bahwa Dia menciptakan segala sesuatu dengan "Al-Haqq," hal ini secara langsung menentang pandangan nihilisme atau pandangan bahwa kehidupan ini tidak memiliki makna akhir. Bagi seorang Muslim, pemahaman ini menuntut pertanggungjawaban. Jika penciptaan memiliki tujuan yang benar, maka manusia—sebagai makhluk paling mulia di dalamnya—juga memiliki tujuan yang harus dicapai, yaitu beribadah dan memakmurkan bumi sesuai petunjuk Ilahi.

Ayat ini seringkali dirangkai dengan ayat-ayat sebelumnya yang berbicara tentang kekaguman para malaikat terhadap penciptaan dan respons kaum musyrik yang merasa aneh terhadap kedatangan peringatan (risalah). Allah menjawab keraguan mereka dengan menegaskan bahwa kebenaran penciptaan ini adalah landasan utama.

Peringatan tentang Kepastian Hari Kiamat

Bagian kedua dari Surah Al-Hijr ayat 8 adalah peringatan yang tegas: "وَمَا كَانَتْ إِذًا مُنظَرِينَ" (Wa mā kānat idzan munẓarīn). Jika penciptaan dilakukan dengan kebenaran dan tujuan, maka konsekuensinya adalah adanya pertanggungjawaban. Kalimat ini merujuk pada datangnya Hari Kiamat atau pembalasan. Allah menegaskan bahwa jika penciptaan ini main-main, maka mungkin saja Dia akan menunda atau membatalkan pembalasan. Namun, karena penciptaan ini berlandaskan kebenaran yang mutlak, maka janji pembalasan (baik untuk kebaikan maupun keburukan) tidak dapat ditawar dan pasti akan tiba waktunya.

Ayat ini memberikan dorongan kuat bagi kaum beriman untuk hidup secara sadar. Kesadaran bahwa setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Zat Yang menciptakan segalanya dengan tujuan yang benar harus menjadi motivasi utama untuk meninggalkan kemaksiatan dan mendekatkan diri pada ketaatan.

Perbandingan dengan Surah Lain

Konsep penciptaan dengan kebenaran ini diperkuat di berbagai tempat dalam Al-Qur'an. Misalnya, dalam Surah Al-Anbiya ayat 16, Allah berfirman, "Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main." Pengulangan penekanan ini menunjukkan betapa pentingnya pesan ini dalam akidah Islam. Ia berfungsi sebagai fondasi bagi seluruh sistem nilai dan etika kehidupan seorang hamba.

Kesimpulannya, Surah Al-Hijr ayat 8 adalah pernyataan teologis yang kokoh. Ia menegaskan keteraturan kosmik, menolak konsep kebetulan dalam eksistensi, dan menjanjikan akhir yang pasti bagi semua makhluk berdasarkan kebenaran dan keadilan Ilahi. Memahami ayat ini membantu seorang mukmin menempatkan realitas duniawi dalam perspektif ukhrawi yang lebih luas dan seimbang.

🏠 Homepage