Surah Al Hijr, surat ke-15 dalam urutan mushaf, mengandung banyak pelajaran penting mengenai keesaan Allah SWT, kekuasaan-Nya, serta konsekuensi dari perbuatan manusia. Salah satu ayat yang memiliki penekanan kuat dan peringatan tegas adalah ayat ke-95. Ayat ini seringkali dibahas dalam konteks peringatan keras terhadap mereka yang mendustakan wahyu dan tidak mengikuti jalan kebenaran yang dibawa oleh para rasul.
Teks dan Terjemahan Surah Al Hijr Ayat 95
وَتَفْسِيرُهُ (Arab):
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِالْقُرْآنِ.
Terjemahan:
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang mendustakan Al-Qur'an (sebelumnya).
Ayat ini secara eksplisit memerintahkan kaum Muslimin untuk mengambil pelajaran dari sejarah umat-umat terdahulu. Kata kunci di sini adalah "janganlah kamu menjadi seperti", yang merupakan larangan tegas untuk meniru perilaku buruk dari pendahulu mereka yang telah dihukum oleh Allah SWT karena kedustaan mereka.
Konteks Penurunan dan Peringatan Terhadap Pendustaan
Ayat 95 Surah Al Hijr ini diletakkan setelah serangkaian ayat yang menceritakan tentang kehancuran kaum-kaum yang telah mendustakan rasul-rasul Allah. Pembahasan dalam Surah Al Hijr meliputi kisah Nabi Luth AS, kaum Tsamud, dan kaum Nabi Musa AS. Setiap kisah diakhiri dengan nasib buruk yang menimpa mereka karena keras kepala dan penolakan mereka terhadap kebenaran yang dibawa.
Dengan menempatkan ayat 95 ini sebagai penutup bagian kisah-kisah tersebut, Allah SWT memberikan penekanan bahwa Al-Qur'an yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah peringatan terakhir dan paling sempurna. Jika generasi baru (umat Nabi Muhammad SAW) melakukan kesalahan yang sama, yaitu mendustakan wahyu ilahi, maka mereka juga akan menghadapi konsekuensi yang sama beratnya.
Implikasi Kedustaan Terhadap Al-Qur'an
Mendustakan Al-Qur'an tidak hanya berarti menolak keberadaannya secara terang-terangan. Dalam konteks yang lebih luas, kedustaan ini mencakup beberapa tingkatan. Pertama, adalah menolak kebenaran ayat-ayatnya dan mengingkari hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Kedua, adalah mengabaikan petunjuk Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari, sehingga praktik hidup seorang Muslim jauh dari ajaran yang sesungguhnya.
Perintah untuk tidak meniru pendusta adalah ajakan untuk muhasabah (introspeksi diri). Mengapa generasi terdahulu binasa? Karena mereka sombong, angkuh, dan menganggap bahwa pandangan atau tradisi mereka lebih benar daripada wahyu Allah. Ketika ajaran Al-Qur'an menuntut perubahan, mereka memilih untuk tetap berada dalam zona nyaman kedustaan mereka.
Jalan Menghindari Kehancuran
Jika larangan keras adalah untuk tidak mendustakan Al-Qur'an, maka jalan keselamatan yang disyariatkan adalah kebalikannya: meyakini, mengimani, memahami, dan mengamalkan seluruh isi Al-Qur'an. Ayat-ayat sebelum ayat 95 menegaskan bahwa Allah SWT telah memelihara Al-Qur'an dari segala perubahan dan kerusakan, berbeda dengan kitab-kitab suci sebelumnya yang mungkin telah mengalami distorsi atau kehilangan.
Oleh karena itu, ayat 95 Surah Al Hijr berfungsi sebagai pengingat abadi: Al-Qur'an adalah mercusuar kebenaran yang telah dijaga. Tugas umat Islam adalah menjadikannya pedoman utama. Kehancuran yang menimpa kaum-kaum terdahulu seharusnya menjadi cermin bagi kita. Kelalaian dalam menyikapi wahyu Allah adalah tiket menuju kerugian, baik di dunia maupun di akhirat. Membaca, merenungi, dan melaksanakan perintah dalam Al-Qur'an adalah bentuk ketaatan paling fundamental yang membebaskan seorang mukmin dari takdir pendusta yang telah dikutuk sejarah.