Simbol ketenangan dan ibadah yang berkesinambungan.
Terjemahan: Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah (salah seorang) yang bersujud.
Ayat ke-99 dari Surah Al Hijr (QS. 15:99) merupakan ayat penutup yang sangat penting dan sarat makna. Surah Al Hijr sendiri berbicara tentang keesaan Allah, peringatan bagi kaum-kaum yang mendustakan (seperti kaum Tsamud dan Luth), keagungan Al-Qur'an, serta kisah penciptaan Nabi Adam AS. Di tengah pembahasan yang luas ini, ayat penutup ini hadir sebagai rangkuman prinsip dasar seorang Muslim dalam menghadapi kerasnya dakwah dan godaan dunia.
Ayat ini secara eksplisit memerintahkan Nabi Muhammad SAW—dan secara implisit seluruh umat Islam—untuk melakukan dua amalan utama: bertasbih dengan memuji Tuhan dan menjadi hamba yang bersujud. Perintah ini datang setelah Allah memberikan penegasan mengenai kebenaran risalah dan janji-Nya yang pasti.
Perintah "Fasabbih bihamdi Rabbik" (Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu) mengandung kedalaman spiritual. Tasbih (سبح) berarti menyucikan Allah dari segala kekurangan atau sifat yang tidak layak bagi keagungan-Nya. Sementara 'Bihamd' (بِحَمْدِ) menambahkan dimensi syukur dan pengakuan atas nikmat serta kesempurnaan-Nya.
Dalam konteks dakwah yang mungkin menghadapi penolakan atau kesulitan, perintah ini berfungsi sebagai jangkar spiritual. Ketika orang lain mendustakan, seorang mukmin diperintahkan untuk mengalihkan fokusnya dari kegaduhan duniawi menuju kemuliaan Sang Pencipta. Ini adalah bentuk ketahanan mental dan spiritual. Ketika hati merasa terbebani oleh perjuangan, pujian dan penyucian nama Allah menjadi penyejuk dan sumber kekuatan yang murni.
Bagian kedua dari ayat ini, "Wa kun minas-sajidin" (dan jadilah (salah seorang) yang bersujud), menyoroti pentingnya ibadah ritual, khususnya salat yang di dalamnya terdapat sujud. Sujud adalah puncak ketundukan seorang hamba di hadapan Allah SWT. Dalam posisi sujud, kening—yang merupakan bagian tertinggi dari tubuh—diletakkan di tempat terendah (bumi), melambangkan ketaatan total dan penyerahan diri sepenuhnya.
Dalam banyak hadis, sujud digambarkan sebagai momen ketika seorang hamba paling dekat dengan Tuhannya. Oleh karena itu, perintah untuk "menjadi orang yang bersujud" bukan sekadar melakukan gerakan fisik, melainkan menjaga kualitas ketundukan hati secara kontinu. Dalam menghadapi tantangan hidup, salat dan sujud adalah pelabuhan kembali, menegaskan bahwa segala kekuatan dan solusi hanya datang dari sisi Allah.
Ayat 99 Al Hijr mengajarkan keseimbangan antara dzikir lisan (tasbih dan pujian) dan amal perbuatan hati yang termanifestasi dalam bentuk fisik (sujud). Keduanya harus berjalan beriringan. Pujian tanpa tindakan nyata adalah kosong, sementara tindakan tanpa kesadaran hati akan menjadi gerakan mekanis belaka.
Dengan menutup surah ini melalui perintah ini, Allah mengingatkan bahwa jalan hidup seorang Muslim, terlepas dari keberhasilan atau kegagalan dalam upaya dakwahnya di mata manusia, selalu bermuara pada penghambaan yang konsisten. Selama seorang hamba terus menyucikan Rabb-nya dan menjaga kedekatan melalui sujud, maka ia telah berada di jalan yang diridhai-Nya, dan janji pertolongan serta ketenangan akan menyertainya hingga akhir hayat. Kehidupan yang dijalani dengan kesadaran ini akan menghasilkan ketenangan batin yang tak ternilai harganya, sebagaimana janji Allah di ayat-ayat sebelumnya mengenai keberkahan Al-Qur'an.