Surah Al-Hijr (الحجر), yang merupakan surat ke-15 dalam urutan mushaf Al-Qur'an, memiliki makna mendalam yang seringkali mengingatkan kita akan kebesaran penciptaan Allah SWT, sekaligus peringatan tentang akibat dari kekafiran dan kesombongan. Nama "Al-Hijr" sendiri diambil dari ayat ke-80 yang mengisahkan kaum Tsamud, kaum Nabi Saleh AS, yang dikenal karena keahlian mereka dalam memahat rumah di gunung-gunung batu.
Konteks dan Tema Utama Surah Al-Hijr
Secara umum, Surah Al-Hijr termasuk dalam golongan Makkiyah, diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Tema-tema utama yang diangkat meliputi penegasan keesaan Allah, kebenaran Al-Qur'an sebagai wahyu, kisah-kisah umat terdahulu sebagai pelajaran (seperti kaum Nabi Luth, Tsamud, dan Ashab al-Aykah), serta dialog antara Allah dengan para malaikat mengenai penciptaan Adam AS.
Kisah Penciptaan Adam dan Penolakan Iblis
Salah satu bagian paling dramatis dalam surah ini adalah ketika Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan atas kedudukannya sebagai khalifah di bumi. Kisah ini menjadi titik balik yang menyoroti kesombongan Iblis.
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat yang kering, yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk'." (QS. Al-Hijr: 26)
Setelah penciptaan Adam selesai, Allah memerintahkan semua malaikat untuk sujud menghormati Adam. Semua malaikat patuh, kecuali Iblis. Penolakan Iblis ini didasari oleh keangkuhan karena merasa lebih mulia (terbuat dari api) dibandingkan Adam (terbuat dari tanah). Akibatnya, Iblis diusir dari rahmat Allah, yang kemudian menjadi sumber segala godaan hingga hari kiamat.
Peringatan Terhadap Kaum Tsamud
Surah ini secara eksplisit menyebutkan bagaimana kaum Tsamud, yang dianugerahi kemampuan luar biasa untuk memahat batu besar menjadi kediaman yang kokoh—sebuah tanda kemajuan peradaban mereka—justru menjadi sombong dan mendustakan rasul mereka, Nabi Saleh AS.
"Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Tsamud dan 'Ad pertanda-pertanda yang jelas, maka mereka mendustakan agama mereka, dan mereka telah diliputi azab yang keras." (QS. Al-Hijr: 74)
Kisah kaum Tsamud menjadi pelajaran abadi bahwa keahlian teknis atau kemajuan peradaban tidak akan berguna jika disertai dengan kekufuran dan pembangkangan terhadap perintah Allah. Rumah-rumah batu mereka yang mereka banggakan tidak mampu menyelamatkan mereka dari azab ilahi.
Pelajaran Penting dari Surah Al-Hijr
- Kebenaran Al-Qur'an: Surah ini menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah firman yang benar dan Allah sendiri yang menjamin penjagaannya dari perubahan (ayat 9).
- Keutamaan Tawakkal dan Kesabaran: Meskipun menceritakan azab, surah ini juga memberikan ketenangan kepada Nabi Muhammad SAW di tengah ejekan kaum musyrikin, menekankan pentingnya bersabar dalam berdakwah.
- Bahaya Kesombongan: Kisah Iblis menjadi contoh utama bahwa kesombongan intelektual atau kebanggaan asal usul adalah jalan menuju kehinaan.
- Kekuasaan Allah Atas Rezeki: Allah mengingatkan bahwa Dia adalah pemberi rezeki yang Maha Luas, bahkan kepada mereka yang menolak-Nya.
Setiap ayat dalam Surah Al-Hijr berfungsi sebagai pengingat bahwa karunia dan peringatan dari Allah selalu datang beriringan. Memahami arti surah ini membantu seorang Muslim untuk selalu rendah hati di hadapan Pencipta, bersyukur atas nikmat-Nya, dan waspada terhadap godaan yang menjauhkan dari jalan kebenaran. Membaca dan merenungkan maknanya adalah cara untuk menyejukkan hati dan menguatkan iman di tengah tantangan hidup modern.