Surat Al-Hijr, yang terletak pada urutan ke-15 dalam Mushaf Al-Qur'an, merupakan surat Makkiyah yang kaya akan pelajaran moral, peringatan, dan kisah-kisah teladan. Nama surat ini diambil dari ayat ke-80 yang mengisahkan kaum Tsamud yang tinggal di lembah batu yang disebut Al-Hijr. Surat ini turun pada periode ketika Nabi Muhammad ﷺ dan umat Muslim awal menghadapi tekanan berat dari kaum Quraisy di Mekkah.
Secara garis besar, Al-Hijr berbicara tentang kebesaran Allah SWT dalam penciptaan, teguran keras terhadap pengingkar, dan jaminan pemeliharaan terhadap Al-Qur'an. Pesan utamanya adalah keteguhan iman di tengah cobaan, serta pentingnya kesabaran dan tawakal.
Salah satu bagian paling menonjol dari surat ini adalah kisah kaum Tsamud. Mereka adalah bangsa yang dianugerahi kemampuan luar biasa oleh Allah SWT untuk memahat rumah-rumah mereka di pegunungan batu, sebuah pencapaian arsitektur yang mengagumkan pada masanya. Ayat-ayat ini memberikan peringatan keras bahwa karunia dan kekuatan materi tidak menjamin kekekalan jika disalahgunakan untuk menentang kebenaran.
Nabi Saleh AS diutus kepada mereka, namun kaum Tsamud justru menantang beliau dengan meminta mukjizat berupa unta betina yang keluar dari batu. Meskipun mukjizat itu ditunjukkan, kesombongan dan keangkuhan mereka membuat mereka membunuh unta tersebut, yang berujung pada azab dahsyat yang membinasakan mereka. Pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa kemampuan fisik atau kecerdasan material (memahat batu) menjadi sia-sia ketika kesombongan menguasai hati.
Al-Hijr juga mengisahkan peristiwa fundamental dalam sejarah penciptaan: keengganan Iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam AS atas perintah Allah. Kisah ini menekankan bahaya kesombongan spiritual, di mana status yang tinggi (sebagai pemimpin para jin) membuat Iblis merasa lebih unggul daripada ciptaan yang baru (manusia).
Penolakan Iblis ini bukan sekadar pembangkangan, melainkan penolakan terhadap konsep kepatuhan mutlak kepada Sang Pencipta. Ayat-ayat ini menjadi pengingat bagi umat Islam agar selalu bersikap rendah hati dan menerima perintah Allah tanpa mempertanyakan logika duniawi.
Di tengah ancaman dan godaan yang dihadapi Nabi Muhammad ﷺ, Allah SWT memberikan penegasan yang sangat kuat mengenai kemuliaan Al-Qur'an. Surat Al-Hijr adalah salah satu surat yang secara eksplisit menyatakan bahwa Allah sendiri yang akan menjaga keaslian kitab suci-Nya.
Ayat ini berfungsi sebagai penenang bagi Rasulullah dan umat beriman bahwa usaha musuh untuk memalsukan, mengubah, atau menghilangkan wahyu Allah akan selalu gagal. Ini menanamkan keyakinan penuh bahwa sumber ajaran Islam adalah murni dan terpelihara hingga akhir zaman.
Surat ini juga menyentuh tema rezeki dan kepasrahan. Dalam menghadapi keraguan kaum kafir, Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk bersikap sabar dan berserah diri. Dunia dan kenikmatan yang ada hanyalah ujian sesaat. Ujian bagi Nabi Adam AS, ujian bagi kaum Tsamud, hingga ujian bagi umat Nabi Muhammad ﷺ semuanya diukur dan diganti dengan ganjaran yang lebih baik bagi mereka yang taat.
Surat Al-Hijr mengajarkan bahwa meskipun kesulitan datang seperti memahat batu yang keras, keteguhan hati, ketaatan kepada wahyu, dan keyakinan penuh bahwa Allah adalah Penjaga segala urusan, adalah kunci utama untuk mencapai kemenangan hakiki, baik di dunia maupun di akhirat.