Memahami Kekuatan Doa dan Keikhlasan: Surah Al-Isra Ayat 110

Ilustrasi Cahaya dan Peningkatan SVG sederhana yang menggambarkan dua tangan terangkat (doa) di bawah sinar matahari terbit (harapan). Doa

Ayat Inti: Surah Al-Isra Ayat 110

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا
"Katakanlah: 'Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Nama mana saja yang kamu seru, bagi-Nya adalah al-Asma’ul Husna (nama-nama yang terbaik)'. Dan janganlah kamu mengeraskan shalatmu dan jangan pula terlalu merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara keduanya."

Konteks dan Kedalaman Makna Ayat

Surah Al-Isra (juga dikenal sebagai Al-Isra’ wal Mi’raj), ayat 110, adalah penutup dari surat yang agung ini. Ayat ini menyimpan dua pesan utama yang fundamental dalam kehidupan seorang Muslim: kebebasan dalam memanggil Allah SWT dan etika dalam beribadah, khususnya dalam salat. Ayat ini turun sebagai jawaban atas keberagaman cara manusia memanggil Tuhan mereka, sebuah konteks yang sangat relevan bahkan hingga hari ini.

Fleksibilitas dalam Memanggil Nama Allah

Bagian pertama ayat ini memberikan kelonggaran luar biasa mengenai penamaan Allah. Ketika Allah diperintahkan untuk berfirman, "Katakanlah: 'Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman'...", ini menunjukkan bahwa sebutan apa pun yang paling diyakini oleh seorang penyeru sebagai representasi kebesaran Allah adalah valid. Baik menggunakan nama Allah yang mencakup seluruh sifat ketuhanan, maupun Ar-Rahman yang secara spesifik menekankan sifat kasih sayang-Nya yang tak terbatas.

Penting untuk dicatat bahwa frasa "bagi-Nya adalah al-Asma’ul Husna" menegaskan bahwa semua nama Allah yang paling indah adalah miliknya. Ini mengajarkan tauhid asma wa shifat—meyakini bahwa Allah memiliki nama-nama yang sempurna, dan penyebutan nama tersebut dalam doa adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Tidak ada batasan dogmatis dalam memilih nama mana yang paling sesuai saat bermunajat, selama nama tersebut merujuk kepada Zat Yang Maha Esa.

Etika Salat: Keseimbangan yang Agung

Pesan kedua dalam Surah Al-Isra ayat 110 adalah instruksi langsung mengenai cara melaksanakan salat. Ayat ini melarang dua ekstrem: Tajhīr (mengeraskan suara salat secara berlebihan) dan Takhāfut (merendahkan suara hingga nyaris tak terdengar).

Pada masa turunnya ayat ini, Rasulullah ﷺ kadang mengeraskan bacaan Al-Qur’an dalam salatnya, yang mana hal ini dapat mengganggu ibadah kaum musyrikin yang kebetulan lewat dan membuat mereka mengejek atau menghalanginya. Sebaliknya, menyembunyikan bacaan secara total (terlalu pelan) juga dikhawatirkan membuat bacaan tidak tersampaikan atau terasa kurang khidmat.

Oleh karena itu, Allah memerintahkan untuk mencari "jalan tengah" (sabilan). Jalan tengah ini diinterpretasikan para ulama sebagai tingkat suara yang terdengar oleh diri sendiri dan orang yang berada di dekatnya, namun tidak mengganggu orang lain, serta mencerminkan ketenangan batin (khusyuk). Keseimbangan ini mencerminkan filosofi Islam secara keseluruhan: menghindari sikap berlebihan (ghuluw) dalam segala aspek kehidupan, termasuk ibadah.

Implikasi Spiritual dalam Kehidupan

Ayat 110 ini mengajarkan bahwa hubungan personal antara hamba dan Tuhannya bersifat intim namun juga bertanggung jawab sosial. Dalam berdoa, kita bebas memilih ungkapan yang paling menyentuh hati kita (menunjukkan keikhlasan), tetapi dalam ritual publik seperti salat, kita harus menjaga harmoni sosial.

Kesimpulannya, Surah Al-Isra ayat 110 adalah panduan praktis menuju kedewasaan spiritual. Ia menegaskan bahwa Allah menerima panggilan kita dalam berbagai bentuk, dan menuntut kita untuk melaksanakan ibadah dengan kesadaran penuh (khusyuk) sambil tetap menjaga adab dan pertimbangan terhadap lingkungan sekitar. Ini adalah seruan untuk beribadah dengan hati yang tulus dan akal yang seimbang.

🏠 Homepage