Salah satu ayat kunci dalam Al-Qur'an yang menekankan pentingnya kerendahan hati di hadapan Allah SWT adalah Surah Al-Isra ayat 109. Ayat ini seringkali dibaca setelah ayat-ayat yang menguraikan keagungan mukjizat dan tanda-tanda kebesaran Allah, khususnya yang berkaitan dengan Rasulullah Muhammad ﷺ.
(Dan mereka menyungkurkan muka sambil menangis, dan hal itu menambah mereka rendah hati/khusyuk.)
Kontekstualisasi Ayat dalam Surah Al-Isra
Surah Al-Isra (atau Bani Isra'il) adalah surah yang kaya akan kisah, peringatan, dan penegasan tauhid. Ayat 109 ini menutup rangkaian pembicaraan Allah mengenai Al-Qur'an dan kebenaran risalah Nabi Muhammad ﷺ. Ayat sebelumnya, yakni ayat 108, menyatakan bahwa ketika ayat-ayat Allah dibacakan kepada orang-orang yang diberi ilmu (sebelumnya diyakini merujuk kepada Ahli Kitab), mereka akan bersujud dan berkata, "Mahasuci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti akan ditepati."
Ayat 109 kemudian menggambarkan reaksi spontan dan mendalam dari mereka yang benar-benar memahami kebenaran tersebut: mereka jatuh tersungkur (menyungkurkan muka/dahi) sambil menangis, dan keadaan itu justru menambah rasa khusyuk dan rendah hati mereka. Ini adalah puncak dari penerimaan wahyu.
Makna Mendalam "Yakhurru Lil-Adhqaani" (Menyungkurkan Muka)
Secara harfiah, "menyungkurkan muka" merujuk pada posisi sujud, di mana bagian paling terhormat dari tubuh manusia, yaitu dahi (tempat sujud), diletakkan di tanah. Tindakan ini memiliki dimensi spiritual yang sangat kuat:
- Pengakuan Ketuhanan: Sujud adalah penyerahan total. Dengan meletakkan dahi di tanah, seorang hamba mengakui bahwa dirinya adalah makhluk yang hina dan bergantung sepenuhnya kepada Rabb yang Mahatinggi.
- Ketulusan Hati: Tindakan fisik ini harus selaras dengan hati. Ini bukan sekadar ritual, tetapi manifestasi dari keimanan yang telah menembus relung jiwa.
- Kehancuran Ego: Ego dan kesombongan yang seringkali menghalangi seseorang menerima kebenaran dihancurkan melalui posisi merendah ini.
Tangisan dan Peningkatan Rasa Khusyuk (Wa Yaziduhum Khushu'an)
Poin kedua yang sangat ditekankan oleh surah al isra 109 adalah adanya tangisan yang menyertai sujud tersebut. Tangisan ini bukanlah tangisan kesedihan duniawi, melainkan tangisan penyesalan (tawbah), rasa syukur yang meluap, dan kekaguman terhadap keagungan firman Allah.
Frasa "wa yaziduhum khushu'an" (dan hal itu menambah mereka khusyuk/rendah hati) adalah inti dari ayat ini. Ini menunjukkan bahwa ketika kebenaran Allah diterima dengan hati yang terbuka, ia tidak hanya mengubah keyakinan, tetapi secara progresif meningkatkan kualitas ibadah dan penghambaan seseorang. Setiap kali mereka mendengar ayat tersebut, keimanan mereka tidak statis; ia terus tumbuh menuju kedalaman kerendahan hati yang lebih besar.
Pelajaran Bagi Umat Islam
Bagi umat Islam, ayat ini memberikan standar bagaimana seharusnya respons terhadap Al-Qur'an. Al-Qur'an bukan sekadar bacaan untuk mendapatkan pahala semata, tetapi ia adalah wahyu yang harus mengubah perilaku dan pandangan hidup. Ketika kita membaca atau mendengar ayat-ayat yang berbicara tentang janji, ancaman, kebesaran Allah, atau kisah para nabi, respons ideal adalah mendekati tingkatan spiritual yang digambarkan dalam ayat 109 Al-Isra.
Hal ini menantang kita untuk introspeksi: Apakah bacaan kita terhadap Al-Qur'an seringkali hanya bersifat hafalan tanpa perenungan? Apakah hati kita masih keras atau telah melembut oleh cahaya kebenaran-Nya? Surah Al-Isra ayat 109 menjadi pengingat abadi bahwa kebenaran sejati selalu melahirkan kerendahan hati yang mendalam dan air mata penyesalan yang membasuh jiwa.