Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Surah Bani Israil, membuka dengan salah satu mukjizat terbesar yang dianugerahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu perjalanan malam (Isra') dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Ayat 1 hingga 10 adalah pembuka yang sarat makna, mengingatkan tentang kemahakuasaan Allah, tujuan risalah, serta konsekuensi perbuatan manusia.
Ayat ini menegaskan kesempurnaan Allah (Subhana). Kata 'Isra' (diperjalankan di malam hari) merujuk pada perjalanan fisik Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Baitul Maqdis (Yerusalem). Kata kunci di sini adalah 'Kami berkahi sekelilingnya', menunjukkan bahwa tanah Palestina dan sekitarnya memiliki keutamaan spiritual yang tinggi. Perjalanan ini bukan semata-mata hiburan, tetapi untuk menunjukkan sebagian dari keajaiban dan tanda kekuasaan Allah kepada Rasul-Nya.
Setelah menyinggung mukjizat Rasul terakhir, Allah mengingatkan umat manusia tentang mukjizat yang diberikan kepada Musa, yaitu Taurat. Ayat ini sekaligus menjadi peringatan agar Bani Israil tidak menyimpang dari petunjuk Allah. Penekanan diberikan pada tauhid; Allah adalah satu-satunya Wakiil (Pelindung dan Pengurus) yang layak disembah dan dimintai pertolongan.
Ayat-ayat selanjutnya menjelaskan tentang dua kerusakan besar yang dilakukan oleh Bani Israil setelah menerima Taurat:
Pesan utama ayat ini adalah prinsip universal: kebaikan dibalas kebaikan, dan kerusakan dibalas kehancuran. Tidak ada satu pun umat yang kebal dari konsekuensi perbuatannya.
Setelah menyinggung Taurat dan kegagalan Bani Israil, Allah memperkenalkan Al-Qur'an sebagai penutup dan penyempurna risalah sebelumnya. Ayat 9 menegaskan bahwa Al-Qur'an membimbing kepada jalan yang paling benar (*aqwam*), yang lurus, adil, dan paling sempurna. Kabar gembira diberikan bagi orang beriman yang mengamalkan kebaikan.
Sementara itu, ayat 10 memberikan peringatan tegas kepada mereka yang menolak hari pembalasan. Bagi yang mengingkari Akhirat, siksaan pedih telah disiapkan. Ini menunjukkan bahwa petunjuk Ilahi selalu menawarkan dua jalan: ganjaran besar bagi ketaatan, dan azab pedih bagi penolakan dan kesombongan.
Sepuluh ayat pertama Surah Al-Isra berfungsi sebagai fondasi ajaran Islam. Pertama, ia mengukuhkan kebenaran kenabian Muhammad SAW melalui mukjizat yang dialami langsung (Isra'). Kedua, ia menegaskan konsistensi pesan Ilahi dari zaman Musa hingga Nabi Muhammad, yaitu ajakan untuk beribadah hanya kepada Allah. Ketiga, ia menetapkan hukum sebab-akibat yang tegas, di mana kesombongan dan penindasan akan selalu berujung pada kehancuran, sedangkan Al-Qur'an adalah pedoman keselamatan abadi.
Pembacaan ayat-ayat ini mengingatkan umat Islam untuk senantiasa bersyukur atas petunjuk Al-Qur'an dan menjaga diri dari kesombongan, sebab sejarah umat terdahulu telah menjadi cermin bagi masa kini.