Surah Al-Zalzalah, atau Surah Az-Zalzalah (Kegoncangan), adalah salah satu surat pendek dalam Al-Qur'an yang memiliki kekuatan deskriptif luar biasa. Terdiri dari delapan ayat, surat ini tergolong surat Madaniyah dan berfungsi sebagai pengingat yang tegas dan mendalam mengenai realitas Hari Pembalasan (Yaumul Qiyamah).
Penamaan surah ini merujuk langsung pada ayat pertamanya yang menggambarkan kondisi bumi ketika kiamat tiba. Ayat-ayatnya tidak hanya melukiskan pemandangan fisik kehancuran, tetapi juga menyoroti aspek akuntabilitas spiritual setiap individu.
Berikut adalah teks asli Arab beserta terjemahan per ayat dari Surah Al-Zalzalah:
Surah Al-Zalzalah memberikan gambaran yang sangat visual tentang awal dari peristiwa terbesar yang akan dialami umat manusia. Ayat pertama dan kedua menggambarkan momen kehancuran fisik total. Kata "zilzalaha" (guncangan yang dahsyat) menunjukkan skala bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya, bukan sekadar gempa bumi biasa. Bumi akan mengeluarkan segala yang ada di perutnya—mayat, harta karun, dan materi yang selama ini terpendam.
Ketidakpahaman manusia terwakili dalam ayat ketiga: "Dan manusia bertanya, 'Mengapa bumi ini?'" Pertanyaan retoris ini menegaskan betapa dahsyatnya peristiwa tersebut hingga akal manusia pun sulit mencernanya. Namun, jawaban atas kebingungan ini datang pada ayat keempat dan kelima: bumi akan berbicara, melaporkan semua yang disaksikan dan terjadi di permukaannya, atas izin langsung dari Allah SWT.
Bagian paling krusial dan menjadi fokus utama dari surah ini adalah ayat 6 hingga 8. Setelah keguncangan fisik usai, fokus beralih pada pertanggungjawaban spiritual. Manusia akan dibangkitkan dalam keadaan terpisah-pisah (asyataatan) untuk menerima hasil dari setiap perbuatan mereka.
Konsep "seberat zarrah" (berat sebuah atom atau semut kecil) adalah penekanan mutlak bahwa tidak ada satu perbuatan pun, sekecil apa pun, yang luput dari perhitungan Allah. Konsep ini mengajarkan dua hal penting:
Oleh karena itu, Surah Al-Zalzalah berfungsi sebagai pengingat abadi. Ia mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia ini hanyalah persiapan, dan setiap detik yang kita jalani sedang dicatat oleh alam semesta itu sendiri, menunggu waktu di mana catatan tersebut akan dipresentasikan di hadapan Sang Pencipta.