Tafsir Ringkas Surah Al-Isra Ayat 1 sampai 5
Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke MasjidilAqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
Ayat ini adalah dasar penetapan mukjizat Isra' Mi'raj, yaitu perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Yerusalem (Al-Quds) dan kemudian naik ke langit. Kata "Subhan" (Mahasuci) menunjukkan keagungan Allah yang mampu melakukan peristiwa luar biasa tersebut.
Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil (seraya berfirman), "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku."
Setelah menyebut mukjizat Nabi Muhammad SAW, Allah mengingatkan akan nikmat yang diberikan kepada Nabi Musa AS, yaitu Taurat, sebagai petunjuk. Ayat ini mengandung larangan tegas bagi Bani Israil untuk tidak menyekutukan Allah atau bergantung kepada selain-Nya sebagai pelindung (Wakil).
(Mereka adalah) keturunan orang-orang yang Kami selamatkan bersama menantang Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah seorang hamba yang sangat bersyukur.
Ayat ini menjelaskan bahwa Bani Israil adalah keturunan dari orang-orang yang diselamatkan Allah bersama Nabi Nuh AS dalam bahtera. Pujian diberikan kepada Nabi Nuh AS sebagai hamba yang sangat bersyukur (Syakur), menjadikannya teladan bagi umat manusia.
Dan telah Kami tetapkan kepada Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi ini sebanyak dua kali dan pasti kamu akan melampaui batas dengan kesombongan yang besar."
Allah memberitakan melalui Taurat bahwa Bani Israil akan melakukan dua kali kerusakan besar di bumi. Kerusakan pertama sering ditafsirkan sebagai perusakan Baitul Maqdis dan pembunuhan para nabi, dan kerusakan kedua adalah penaklukan mereka atas Yerusalem pada periode waktu tertentu. Kata "Uluwwan Kabira" menekankan kesombongan dan keangkuhan mereka yang melampaui batas.
Maka, apabila datang saatnya (penepatan) yang pertama dari kedua (masa kerusakan) itu, Kami datangkan kepada kalian hamba-hamba Kami yang sangat keras pertempuran, lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Dan itulah janji yang pasti terlaksana.
Sebagai konsekuensi dari kerusakan pertama, Allah mengirimkan musuh yang kuat ("hamba-hamba Kami yang sangat keras pertempuran") untuk menghukum mereka. Sebagian besar mufassir menafsirkan hukuman ini sebagai penyerbuan oleh tentara dari bangsa lain (misalnya tentara Raja Babel, Nebukadnezar) yang berhasil menembus dan menguasai wilayah mereka, menghancurkan apa yang mereka banggakan.
Kelima ayat awal Surah Al-Isra ini memberikan landasan teologis tentang keagungan Allah, mengingatkan umat terdahulu akan nikmat ilahi, sekaligus memberikan peringatan keras mengenai konsekuensi dari kesombongan dan kerusakan di muka bumi.