Penjelasan Mengenai Surah Al-Isra Ayat 109
Ayat ke-109 dari Surah Al-Isra (juga dikenal sebagai Al-Isra' atau Bani Isra'il) adalah salah satu ayat penutup surat tersebut yang menyoroti respons mendalam kaum Quraisy (yang menolak kebenaran Nabi Muhammad SAW) ketika diperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT, khususnya ketika mereka mendengar pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Lafaz Arab "Wa yakhirruuna lil-adzqani yabhkoona wa yaziduhum khushoo'a" secara harfiah menggambarkan tindakan fisik dan emosional yang luar biasa. "Yakhirruuna lil-adzqani" berarti mereka jatuh tertelungkup (sujud) dengan wajah atau dahi menyentuh tanah. Ini adalah simbol puncak kerendahan hati, ketundukan total, dan pengakuan akan kebenaran yang mereka dengar.
Kata "yabhkoona" merujuk pada tangisan. Tangisan yang menyertai sujud tersebut bukanlah tangisan kesedihan biasa, melainkan tangisan yang timbul dari kesadaran mendalam akan keagungan wahyu Allah. Ini menunjukkan bahwa meskipun hati mereka keras pada awalnya, ayat-ayat Allah mampu menembus pertahanan diri mereka, memicu penyesalan, dan memunculkan rasa takut yang disertai cinta kepada Sang Pencipta.
Poin penting lainnya adalah frasa "wa yaziduhum khushoo'a". Ini menegaskan bahwa setiap kali mereka mendengar ayat-ayat tersebut, rasa khusyu' (ketenangan batin yang disertai rasa hormat dan tunduk) mereka bertambah. Ini adalah fenomena spiritual yang khas dari Al-Qur'an; semakin sering didengar dan direnungkan, semakin dalam pengaruhnya terhadap jiwa pendengarnya. Ayat ini menjadi salah satu dalil kuat yang menunjukkan keajaiban dan dampak transformatif dari firman Allah SWT.
Konteks dan Hikmah Ayat
Ayat ini sering dikaitkan dengan reaksi orang-orang yang sebelum mendengar Al-Qur'an dalam kondisi sombong atau menolak, namun ketika mendengarnya, mereka tidak mampu menahan diri untuk tidak tunduk. Dalam beberapa riwayat, ayat ini dikaitkan dengan kaum Nasrani yang hatinya lebih mudah tergerak oleh kebenaran dibandingkan sebagian kaum musyrik Mekkah saat itu.
Hikmah yang bisa diambil adalah bahwa kebenaran yang disampaikan dengan otentik akan selalu menemukan jalan untuk menyentuh hati manusia, meskipun hati tersebut tertutup oleh kesombongan duniawi. Sujud dan tangisan adalah manifestasi lahiriah dari proses penyucian jiwa batiniah. Ayat ini mengajarkan pentingnya mendengarkan kebenaran dengan hati yang terbuka, siap untuk menangis dalam penyesalan, dan bersujud dalam pengakuan kekuasaan mutlak Allah SWT.
Surah Al-Isra (atau Al-Isrāʼ) secara keseluruhan membahas berbagai mukjizat Nabi Muhammad SAW, termasuk peristiwa Isra' Mi'raj, serta memberikan peringatan dan janji kepada Bani Isra'il. Ayat 109 menutup perbincangan tentang kebenaran Al-Qur'an dengan sebuah gambaran visual dan emosional tentang bagaimana kebenaran itu diterima oleh mereka yang hatinya mulai dilembutkan oleh daya magis wahyu ilahi tersebut.