Dalam lembaran Al-Qur'an, terdapat jaminan universal tentang keadilan mutlak yang berlaku bagi setiap manusia. Surah Al-Isra (Bani Israil), ayat 13 hingga 15, secara tegas menjelaskan konsep tanggung jawab individu dan prinsip pembalasan yang tidak terhindarkan dari Allah SWT. Ayat-ayat ini merupakan pengingat kuat bahwa tidak ada satu perbuatan, baik besar maupun kecil, yang luput dari catatan dan perhitungan-Nya.
Ayat ke-13 memberikan gambaran visual yang menakjubkan tentang Hari Kiamat: setiap individu akan menerima kitab amalnya. Kitab ini, yang mencatat setiap detail perbuatan, akan disajikan dalam keadaan terbuka (manshoora). Tidak ada ruang untuk penyangkalan atau pembelaan yang tidak berdasar, karena bukti telah disajikan secara gamblang. Ini menekankan akuntabilitas langsung antara Allah dan hamba-Nya.
Kemudian, ayat ke-14 membawa konfrontasi personal yang tajam: "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu sendiri." Panggilan ini adalah puncak dari tanggung jawab. Tidak ada pihak ketiga yang bisa dimintai pertanggungjawaban. Amal kita sendiri—semua niat, perkataan, dan tindakan—akan menjadi saksi utama dan hakim pribadi kita. Konsep 'hasib' (penghitung) di sini menegaskan bahwa setiap jiwa akan menjalani audit penuh atas catatan hidupnya.
Ayat 15 adalah salah satu pilar utama dalam teologi keadilan Islam. Allah SWT menegaskan kaidah fundamental: "Barangsiapa mendapat petunjuk, maka sesungguhnya dia mendapat petunjuk itu untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tersesat, maka sesungguhnya dia tersesat bagi dirinya sendiri." Ini meniadakan konsep dosa warisan atau dosa yang dipikulkan kepada orang lain. Keuntungan dari ketaatan dan kerugian dari kemaksiatan sepenuhnya menjadi milik pelakunya.
Lebih lanjut, ayat ini menegaskan prinsip "Laa taziru waaziratun wizra ukhraa"—satu jiwa tidak akan memikul beban dosa jiwa yang lain. Ini menunjukkan betapa adilnya sistem perhitungan Allah. Jika seseorang menganjurkan kebaikan, ia mendapatkan pahala kebaikannya ditambah pahala orang yang mengikutinya; sebaliknya, jika ia menganjurkan keburukan, ia menanggung dosanya sendiri tanpa mengurangi dosa yang mengikuti.
Bagian akhir dari ayat 15 memberikan rahmat yang luar biasa dan sekaligus menjadi syarat penetapan hujjah (bukti) atas setiap manusia: "Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul." Ini adalah bentuk kasih sayang dan keadilan Allah yang sempurna. Azab tidak akan pernah ditimpakan kepada suatu kaum atau individu sebelum mereka menerima risalah yang jelas dari utusan Allah. Rasul berfungsi sebagai pembawa peringatan dan penjelas jalan yang benar. Setelah rasul diutus, manusia memiliki pilihan sadar untuk mengikuti atau menolaknya, dan konsekuensinya akan ditanggung sendiri sesuai catatan amal di kitab mereka.
Secara kolektif, ayat 13 hingga 15 Surah Al-Isra adalah kerangka etika dan spiritualitas yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya. Mereka menuntut kesadaran penuh dalam setiap langkah hidup, karena setiap tindakan direkam, dan pertanggungjawaban pada akhirnya bersifat individual, didasarkan pada keadilan Ilahi yang sempurna dan disampaikan melalui bimbingan para rasul.
— Akhir Tadabbur —